Blog Asik
Jangan lupa RSS meimiaw :)
Bookmark
di Browser kamu
Punya pertanyaan?
Kirim email ke Mei!

Jumat, 06 Januari 2017

Belajar.....Mencintai.....dan Seperti Kupu-Kupu.....

0 komentar
 " Happiness is a butterfly, which when pursued, is always just beyond your grasp, but which, if you will sit down quietly, may alight upon you. - Nathaniel Hawthorne "
Kebahagiaan itu seperti kupu-kupu yang ketika dikejar selalu berada di luar jangkauan kita. Akan tetapi, jika Anda diam dengan tenang, maka ia akan mendekati Anda.



Foto dari Kupu Kupu di Desa Ngluwar, Magelang









            Ada begitu banyak cerita dalam kehidupan, terdapat beragam sifat dan perbuatan begitu juga makna dari kehidupan itu sendiri. Tanpa memperdulikan panjang usia yang dimiliki, seperti halnya kupu-kupu. Saya yakin semua orang menyukai kupu-kupu, akan tetapi apakah kita juga menyadari bahwa keindahan itu dimulai dari proses yang panjang, dan mungkin sangat menyakitkan.
Kupu-kupu merupakan hewan yang mengalami metamorfosis sempurna, dari dimulai telur, telur menjadi ulat, ulat menjadi kepompong, kemudian setelah itu barulah menjadi kupu-kupu. Begitulah sebuah proses yang panjang untuk mencapai keindahan. Dan ketika telah menjadi kupu-kupu semua orang akan menyukainya, tapi adakah yang menyukai telur kupu-kupu atau bahkan ulatnya?? Kita sendiri pasti takut, atau bahkan berusaha membunuhnya.
Apabila kita melihat semua proses panjang untuk menjadi kupu-kupu yang indah, sebenarnya kita bisa belajar dari hal tersebut. Karena pada dasarnya kita tidak hanya belajar pada apa yang tertulis, namun yang lebih penting adalah belajar dari alam sekitar kita, termasuk hewan dan binatang-binatang di sekitar kita. Dari proses perkembangan kupu-kupu tersebut, dapat kita lihat bahwa perkembangan menjadi kupu-kupu tidaklah mudah, dan tentu banyak sekali rintangan bahkan bahaya yang mengancam.

Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang teman lama, orang yang saya anggap seperti kakak saya sendiri. Orang yang entah kenapa selalu hadir disaat yang tepat... Dan saya diingatkan dalam sesuatu yang mungkin saya lupakan atau abaikan... Saya lupa akan menikmati indahnya bersyukur...
Saya harus mengakui bahwa saat ini saya terpecah belah dengan masalah, saya hanya terfokus akan nestapa masalah masalah yang datang silih berganti. Saya hanya mencicipi sakitnya hidup saya yang tercerai berai... Saya lupa untuk melangkah, saya lupa untuk melihat kebawah, saya hanya menikmati irisan irisan hati yang terluka.....
Jika berkaca, entah apa saya ini. Mungkin keledai, mungkin lebih hina dari pada keledai.... Keledai aja tidak akan terjatuh pada lobang yang sama, tetapi tidak begitu dengan saya... Saya hanya terfokus akan keterpurukan saya dengan masalah saya sendiri, bodohnya saya terlarut dalam penyakit saya, penyakit ayah saya, ekonomi keluarga, dan permainan laki-laki..... Tetapi saya lupa akan melihat keindahan dunia.... Saya lupa bersyukur...

Syukur....
Mudah diucapkan, susah dilaksanakan....
Itulah ayat di dalam Al Kitab yang kakak ucapkan kepadaku

Allah berdaulat dan memegang kendali atas segala kesusaha
Tak ada Allah lain yang mengetahui segala hal dari sejak zaman purbakala. Kita memiliki Allah yang telah merancangkan segala hal sejak dari awal hingga akhir hidup kita. Keputusan-Ku akan sampai, dan segala kehendak-Ku akan Kulaksanakan (Yesaya 46: 9-10).
Tuhan dekat dengan orang-orang yang terluka
Tuhan tak akan pernah membiarkan setiap orang merasakan luka sepanjang hidupnya. Sebaliknya, Ia adalah pribadi yang sangat dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya (Mazmur 34: 18).
Suatu saat nanti segala penderitaan akan berakhir
Suatu hari nanti Yesus akan membasuh air matamu dan kamu akan melihat kemuliaan dari wajah-Nya. Segala air mata, ratap tangis atau dukacita akan dihapuskan-Nya (Wahyu 21: 4).
Meski hari ini terdapat setumpuk persoalan yang mendera kehidupan ktia, ingatlah bahwa Tuhan tetap baik. Pada saat kita menghadapi masalah atau pencobaan, Dia mempunyai rencana yang indah dan baik dalam hidup kita. Ia ingin melatih kita menjadi pribadi yang kuat dan tangguh.
                     Itulah ayat di dalam Al Kitab yang kakak ucapkan kepadaku
Seperti kupu-kupu, untuk menjadi kupu - kupu kamu akan menjadi ulat menjijikan yang dijauhin.... Sebelum menjadi indah kamu akan dipandang sebelah mata. Kamu menyakinkan aku bisa menjadi kupu - kupu, menjadi indah, menjadi kuat.... Meskipun aku tidak sekuat yang kamu kira, tapi aku akan berusaha menjadi kuat. Terima kasih kak, terima kasih selalu menjadi kakak terbaikku...
Kakak yang selalu mengawasi adiknya dari kejauhan,
Give me Time kak,
PESAN UNTUK KITA…
Ketika sang fajar menyingsing dengan kilauannya yang begitu indah…
Ia sampaikan pada kita…
Sang kupu-kupu dengan sayap indah telah terlahir…

Pesan itu begitu dalam masuk di relung jiwa kita…
Mengajak imaji kita terbang menuju taman kata yang begitu luas…
Pernah-kah kita saksikan…?
Angin yang begitu angkuh membuat kepak sayapnya tertatih…
Dan kepingan masa yang mengajarkan kita kehidupan berharga...
Usaha  dan peluang-lah yang menjadi takdir-nya…


Kehidupan telah menelanjangi mata hati kita...
Dan hanya sisa waktu yang kita miliki…
Entahlah apa yang mampu kita persembahkan…
Masihkah dapat tertawa lepas…?
Sedang panah kematian setiap saat terselip dihadapan kita…

Pintaku dalam kesungguhan pada Sang Maha…
Semoga tak ada lagi yang sia-sia…
Dalam malam kesungguhan dan siang keceriaan…

قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Katakanlah! Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Ankabuut [29]:20)

(DAN)

إِنَّمَا إِلَهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا
Sesungguhnya, Tuhanmu hanyalah Allah, yang tidak ada Tuhan selain Dia. Pengetahua-Nya meliputi segala sesuatu. (QS. Thaahaa [20]:98)


 Ya, Allah hadirkan secuplik hikmah melalui si lemah telur, si buruk rupa ulat, si diam kepompong, dan si elok kupu-kupu bahwa kehidupan memiliki caranya sendiri untuk menjadi indah. Dengan apa? Dengan bersyukur, kawan. Kita hanya harus menjalani fase hidup kita sendiri-sendiri, tidak perlu menjadi siapapun. Terima saja dan tidak perlu mengeluh. Melewati setiap detiknya dengan sikap yang terbaik tidak akan berbuah penyesalan di masa yang akan datang. Semoga kita bisa tumbuh menjadi “kupu-kupu” dengan warna sayap kita masing-masing. Bersama kita terbang membawa hikmah yang kita temukan sepanjang perjalanan. 
Read More →

Senin, 02 Januari 2017

Ya Soshla S Uma (They Know Nothing part II) RU

0 komentar


- Hidup tak lepas dari masalah yg kadang buatmu ingin menyerah, tapi jika menyadari semua itu tuk buatmu lebih bijaksana, hidup ini indah.Maka bersabarlah dalam segala hal, tapi yang terpenting adalah bersabar dengan emosi yang ada di dalam dirimu sendiri - Anonim


Ya soshla s uma...
Pochemu, pochemu?
A oni govoryat – vinovata sama...
(RU)

Hingga detik ini saya masih tidak mengerti dengan dia atau pun dengan apa dilakukan,
Dan saya pun masih mencari titik kesalahan fatal yang telah saya lakukan,
Entah mengapa tiap apa yang saya lakukan , yang saya jalani selalu salah dan menjadi bahan cibiran dan hinaan,
Saya berfikir apa yang telah saya jalani dan saya lakukan saat ini tidak ada hubungan dengan dia dan mereka,
tapi entah kenapa dia dan mereka selalu naik darah dengan kesehariannya?
Salahnya itu dibagian apa?
Hidup saya? Hidup dia? atau otak dan perasaan dia?
Tapi saya bisa apa?
Selain bersabar dan diam, dan tetap menjalani hidup saya seperti saya...

Kamu itu cahaya, hiasilah cahayamu dengan kebaikan dan cinta kasih
Jangan kamu hiasi dengan kebencian dan dendam,
Hal itu hanya akan meredupkan harimu,
Percayalah jika kamu banyak mengeluarkan aura positif,
Maka hidupmu akan selalu positif
Begitu pun sebaliknya.
Cahaya itu untuk menerangi, bukan menggelapkan

hey kamu, kamu yang jauh disana...
Kita ini beda pulau, kita beda kehidupan...
aku cuma mau bilang
Kalau kamu memang benci aku, aku cuma mau bilang
Jangan benci aku, jangan mengstalking aku
Nanti kamu susah, 
iya susah, susah liat aku bahagia
Makasih ya kalau kamu benci dan mencela aku,
Aku jadi termotivasi
Termotivasi buat lebih baik dan lebih bahagia dari pada kamu
Sudahlah berhenti kawan, kita ini bukan kawan
Apa susah berteman?
Apa tidak buang energi membenci orang yang sama sekali tidak membencimu?

Saya berdoa untukmu,
Semoga hari hari mu senantiasa dihiasi oleh kebahagian dan cinta kasih
Sehingga kamu tak perlu lagi membenci orang yang berbahagia dan tidak pernah membencimu

Tertanda,
Andi Meiria Kurnia Utami


Read More →

Minggu, 01 Januari 2017

To New (You) Lover

0 komentar



 - Melupakan seseorang yang telah memberimu banyak hal tuk diingat adalah hal yg sangat sulit. Tapi jika itu yg terbaik, maka lepaskanlah - Anonim

Seringkali bila ada perpisahan yang ada dibenak kita adalah "Melupakan" bukanlah "Mengikhlaskan". Padahal "lupa" dan "ikhlas" adalah sesuatu hal yang berbeda. Saya sempat berfikir saya telah melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Ketika perpisahan itu datang, dengan sigap wacana "melupakan" selalu muncul didalam benak. Berbagai cara dilakukan entah mulai dengan menghapus foto atau kontak ataupun hal lainnya. Tapi ternyata sepertinya saya salah. Saya mulai berfikir bahwa itu salah. Untuk apa saya melupakan namun ketika yang pergi kembali itu kembali lagi kenangan dan hal lainnya, bukankah itu percuma?

Saya seakan lupa akan yang namanya dengan "ikhlas".
Padahal the most important are be patient and humble :)))
God, please forgive me....
Dan kali ini entah sudah yang keberapa kali saya harus ikhlas, ikhlas dgn apa yg telah ia lakukan, ikhlas dgn apa yg telah terjadi....

Setidaknya saya berterima kasih kepada dia yang dulu telah menemani hari2 saya,
yang telah sempat membangkitkan saya,
yang telah membuat saya lebih sabar dan berkurang ke psikopatan dan ke anehan saya,
Saya yakin saya punya hikmah tersendiri dengan kisah kita..
dan sekarang sudah tidak ada kata kita,
saya yang sekarang hanya bisa berkata kepadamu,
Dulu kamu pernah bilang masih ada cerita kita yang belum selesai, mungkin kini saatnya aku menyelesaikan apa yang kamu mulai.
Hey kamu,
Jangan labil lagi ya, pendampingmu skg lebih baik dari aku. Kalian pasti bahagia, kalian cocok.
Langgeng ya...




Thanks and Good Bye my 121212



Read More →

Rabu, 21 Desember 2016

Selayang Pandang Mengenai Psikologi Forensik

0 komentar

Secara umum psikologi forensik dibangun oleh dua displin ilmu yang beririsan yakni psikologi dan hukum yang melahirkan psikologi forensik. Psikologi adalah ilmu yang mempelajari jiwa/psikis manusia, sehingga dalam setiap kehidupan manusia maka psikologi berusaha untuk menjelaskan masalah yang dihadapi. Tak terkecuali dalam permasalahan hukum. Di Indonesia, psikologi kemudian membagi bidangnya menjadi 6 yaitu psikologi klinis, perkembangan, psikologi umum dan eksperimen, psikologi sosial, psikologi pendidikan, psikologi industri dan organisasi. Pada kenyataannya di Amerika Serikat, pembagian ini sudah menjadi lebih dari 50 bagian, mengikuti semakin kompleksnya permasalahan yang dihadapi manusia. Salah satunya adalah permasalahan dalam bidang hukum, bagian dari psikologi yang menanganinya sering dikenal sebagai psikologi forensik. Apa itu psikologi forensik?
Psikologi forensik adalah aplikasi metode, teori, dan konsep-konsep psikologi dalam sistem hukum. Setting dan kliennya bervariasi, mencakup anak-anak maupun orang dewasa. Semua jenis institusi, mencakup korporasi, lembaga pemerintah, universitas, rumah sakit dan klinik, serta lembaga pemasyarakatan, dapat terlibat sebagai klien atau obyek kesaksian dalam berbagai macam kasus hukum.
Sundberg et,al (2007) memberikan defenisi psikologi ferensik sebagai kajian ilmiah psikologi termasuk isu – isu klinis yang diaplikasikan pada beberapa bagian sistem hukum atau sistem peradilan.
Committee on ethical guidelines for forensic psychologists (1991), psikologi adalah semua pekerjaan psikologi yang secara langsung membantu pengadilan, pihak-pihak yang terlibat proses hukum, fasilitas-fasilitas kesehatan mental koreksional dan forensik, dan badan badan adminitratif, judikatif dan legislatif yang bertindak dalam sebuah kapasitas judisial. Layanana psikologi forensik pada Psikologi hukum adalah semua bentuk pelayanan psikologi yang dilakukan di dalam hukum.
Meliala (2008) menyatakan psikologi forensik merupakan istilah yang dapat memayungi luasnya cakupan keilmuan psikologi forensik. Komunitas psikologi forensik di Indonesia juga menyepakati istilah psikologi forensik dengan membentuk komunitas minat di bawah HIMPSI dengan nama Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR).
SEJARAH PSIKOLOGI FORENSIK
Pada tahun 1901, William Stern melaporkan bahwa dia sedang meneliti ketepatan ingatan orang --- suatu rintisan awal dalam penelitian yang banyak dilakukan pada masa kini tentang ketepatan kesaksian seorang saksi. Dalam ceramahnya kepada sejumlah hakim Austria pada tahun 1906, Freud mengatakan bahwa psikologi dapat diaplikasikan pada hukum. Kemudian John Watson juga mengemukakan bahwa psikologi dan hukum memiliki kesamaan kepentingan.
Pada tahun 1908, Hugo von Munsterberg menerbitkan bukunya tentang the Witness Stand.Dia mengeluhkan bahwa tidak ada orang yang lebih resisten daripada insan hukum terhadap gagasan bahwa psikolog dapat berperan dalam pengadilan. Dia menuduh bahwa pengacara, hakim, dan bahkan juga anggota juri tampaknya berpendapat bahwa yang mereka butuhkan agar dapat berfungsi dengan baik hanyalah common sense.
Prof. John Wigmore (1909), seorang profesor hukum terkemuka di Northwestern University, memandang dakwaan Munsterberg itu sebagai arogansi. Untuk menanggapi dakwaan tersebut, Wigmore menulis sebuah fiksi karikatur yang menggambarkan pengadilan terhadap Munsterberg. Munsterberg dituntut karena telah menyebarkan fitnah, dituduh telah membesar-besarkan peranan yang dapat ditawarkan oleh seorang psikolog, mengabaikan pertentangan pendapat yang terjadi di kalangan para psikolog sendiri, dan tidak dapat memahami perbedaan antara hasil laboratorium dan realita persyaratan hukum. Tentu saja “pengadilan” itu menempatkan Munsterberg pada posisi yang kalah dan harus membayar denda.
Serangan Wigmore ini demikian pintar dan menghancurkan sehingga baru 25 tahun kemudian psikolog dipandang tepat lagi untuk berperan sebagai seorang saksi ahli. Akan tetapi, tidak lama menjelang kematiannya sekitar 30 tahun kemudian, Wigmore memperlunak kritiknya. Dia menyatakan bahwa pengadilan seyogyanya siap menggunakan setiap cara yang oleh para psikolog sendiri disepakati sebagai cara yang sehat, akurat, dan praktis.
Namun demikian, pengaruh langsung psikologi relatif kecil terhadap hukum hingga tahun 1954. Pada tahun tersebut Kejaksaan Agung akhirnya memberi perhatian pada ilmu-ilmu sosial dalam kasus dissegregasi Brown v. Board of Education. Kemudian, pada tahun 1962 Hakim Bazelon, yang menulis tentang the U.S. Court of Appeals untuk the District of Columhia Circuit, untuk pertama kalinya menyatakan bahwa psikolog yang berkualifikasi dapat memberikan kesaksian di pengadilan sebagai saksi ahli dalam bidang gangguan mental.
Kini, psikolog selalu dilibatkan sebagai saksi ahli dalam hampir semua bidang hukum termasuk kriminal, perdata, keluarga, dan hukum tatausaha. Di samping itu, mereka juga berperan sebagai konsultan bagi berbagai lembaga dan individu dalam sistem hukum. Kini psikologi forensik telah tiba pada suatu titik di mana terdapat spesialis dalam bidang penelitian psikolegal, program pelatihan interdisiplin sudah menjadi sesuatu yang lazim, dan berbagai buku dan jurnal dalam bidang keahlian ini sudah banyak diterbitkan.
SIAPA-SIAPA SAJA YANG MENGKAJI PSIKOLOGI FORENSIK?
Dilihat dari tugas dan tangungjawabnya, individu yang berkecimpung pada psikologi forensik dapat dibedakan menjadi :
1. Ilmuwan psikologi forensik. Tugasnya melakukan kajian/ penelitian yang terkait dengan aspek-aspek perilaku manusia dalam proses hukum.
Pada dasarnya hampir semua penelitian dalam bidang psikologi itu relevan dengan beberapa isu forensik. misalnya, penelitian tentang komponen genetik schizophrenia mungkin sangat penting dalam sidang pengadilan tentang kompetensi mental. Hakikat sikap prejudice atau elemen-elemen dasar proses persuasi juga penting bagi pengacara. Penelitian konsumen mungkin mempunyai aplikasi langsung pada kasus tuntutan pertanggungjawaban produk. Dan akhir-akhir ini, penelitian tentang atribusi dan hubungan interpersonal telah diaplikasikan pada undang-undang tentang penggeledahan dan perampasan. Akan tetapi, beberapa bidang penelitian telah menjadi sangat dikaitkan dengan psikologi forensik, dan dalam bagian ini akan dibahas dua bidang, yaitu kesaksian saksi mata dan perilaku juri.
Kesaksian Saksi Mata. Kesaksian saksi mata sering tidak dapat diandalkan dan tidak akurat, sehingga sering kali orang yang tidak bersalah dinyatakan bersalah atau sebaliknya. Penelitian menunjukkan bahwa ingatan saksi mata dapat terdistorsi dengan mudah oleh informasi yang diperolehnya kemudian.
Di samping itu, orang sering kali menarik inferensi berdasarkan ekspektasinya sendiri. Juga, seorang saksi mata kecelakaan atau kejahatan hampir selalu ditanyai sebelum sidang pengadilan. Dalam tanya/jawab itu, mungkin ada suatu ucapan yang dapat mendistorsi ingatan saksi terhadap kejadian sesungguhnya. Peranan psikolog forensik adalah membantu mengidentifikasi kondisi dalam suatu kasus tertentu yang dapat menghasilkan distorsi dalam kesaksian.
Pengalaman menunjukkan bahwa para saksi mata sering kali tidak dapat sepakat di antara mereka sendiri. Mereka berbeda dalam deskripsinya tentang tinggi, berat, warna rambut, pakaian, dan bahkan juga ras. Menanggapi keprihatinan tentang kesalahan identifikasi saksi mata ini, the American Psychology-Law Society (Divisi 41 dari the American Psychological Association) telah membentuk sebuah subkomite untuk mengkaji evidensi ilmiah dalam bidang ini dan merumuskan rekomendasi.
Secara ringkas, subkomite tersebut merumuskan rekomendasi berikut:
a. Orang yang melaksanakan penjejeran (lineup) atau penayangan foto (photo-spread) dalam sebuah kasus seyogyanya tidak mengetahui identitas orang yang dicurigai.
b. Saksi mata seyogyanya diberi tahu bahwa seseorang yang dicurigai dalam kasus tersebut mungkin ada atau mungkin juga tidak ada di dalam lineup atau photo-spread dan bahwa orang yang melakukan lineup atau photo-spread itu tidak tahu yang mana orangnya (kalau ada) yang dicurigai dalam kasus itu.
c. Orang yang dicurigai di dalam lineup atau photo-spread seyogyanya tidak tampil beda (dalam penampilannya atau pakaiannya) dari orang-orang lain.
d. Keyakinan saksi mata tentang identifikasinya seyogyanya diakses pada saat identifikasi dilakukan dan sebelum mendapat suatu feedback.
Dengan demikian, diharapkan bahwa kesalahan identifikasi oleh saksi mata akan diminimalkan.
Perilaku Juri. Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui bagaimana anggota juri memahami bukti dan memproses informasi, bagaimana mereka merespon instruksi dari meja pengadilan, dan bagaimana mereka bereaksi terhadap jenis argumen tertentu. Anggota juri sering bingung dengan instruksi dari hakim. Satu penelitian menunjukkan bahwa bila pola instruksi yang diberikan kepada juri itu disederhanakan, misalnya dengan menggunakan kalimat aktif, pesannya pendek dan singkat, istilah-istilah hukum yang abstrak lebih dijelaskan, maka mereka mampu menerapkan hukum secara lebih akurat.
Bahkan kondisi yang sangat sederhana seperti urutan instruksi yang diberikan oleh hakim dapat berdampak pada juri. Misalnya, satu penelitian menemukan bahwa pemberian informasi kepada juri tentang persyaratan bukti sebelum menyajikan bukti, bukannya sesudahnya, akan berbeda dampaknya. Anggota juri dengan kondisi yang disebutkan terdahulu cenderung akan lebih berpegang pada diktum praduga tak bersalah daripada mereka yang dihadapkan pada kondisi yang disebutkan kemudian.
Terdapat juga banyak kondisi yang dapat membuat bias keputusan juri. Misalnya, seorang individu mungkin dihadapkan pada beberapa dakwaan kejahatan. Kadang-kadang kejahatan-kejahatan ini digabungkan menjadi satu dakwaan; dan dalam kasus lain, terdakwa mungkin akan disidangkan secara terpisah untuk masing-masing kejahatan itu. Penelitian menunjukkan bahwa bila beberapa kejahatan itu digabungkan menjadi satu dakwaan, maka juri cenderung mengusulkan vonis yang lebih berat.
2. Praktisi psikolog forensik. Tugasnya memberikan bantuan profesional berkaitan dengan permasalahan hukum.
Berikut akan dipaparkan praktisi psikolog forensik, karena asosiasi psikologi forensik akan lebih banyak bergerak di praktisi, walau tidak melupakan pengembangan keilmuannya.
Psikolog forensik adalah psikolog yang mengaplikasikan ilmunya untuk membantu penyelesaian masalah hukum. Di Indonesia, profesi psikolog forensik masih kurang dikenal, baik di kalangan psikolog maupun di kalangan aparat hukum.
Tugas psikolog forensik pada proses peradilan pidana adalah membantu pada saat pemeriksaan di kepolisian, di kejaksaan, di pengadilan maupun ketika terpidana berada di lembaga pemasyarakatan. Gerak psikolog dalam peradilan terbatas dibanding dengan ahli hukum. Psikolog dapat masuk dalam peradilan sebagai saksi ahli (UU RI nomor 8 tahun 1981 tentang KUHAP). Oleh karena itu diperlukan promosi kepada bidang hukum akan pentingnya psikologi dalam permasalahan hukum, sehingga dalam kasus-kasus pidana, ahli hukum mengundang psikologi. Tanpa undangan aparat hukum, maka psikologi akan tetap berada di luar sistem dan kebanyakan menjadi ilmuwan, dan bukan sebagai praktisi psikolog forensik.
Inti kompetensi psikolog adalah asesmen, intervensi, dan prevensi. Yang membedakan psikolog forensik dengan psikolog lainnya adalah konteks tempat ia bekerja. Psikolog forensik menerapkan kompetensi asesmen, intervensi, dan prevensinya dalam konteks permasalahan hukum.
Berikut akan dipaparkan beberapa tugas psikolog forensik di setiap tahap proses peradilan pidana.
Kepolisian
Pada pelaku. Interogasi bertujuan agar pelaku mengakui kesalahannya. Teknik lama yang digunakan polisi adalah dengan melakukan kekerasan fisik, teknik ini banyak mendapatkan kecaman karena orang yang tidak bersalah dapat mengakui kesalahan akibat tidak tahan akan kekerasan fisik yang diterimanya. Teknik interogasi dengan menggunakan teori psikologi dapat digunakan misalnya dengan teknik maksimalisasi dan minimalisasi (Kassin & McNall dalam Constanzo, 2006). Psikolog forensik dapat memberi pelatihan kepada polisi tentang teknik interogasi yang menggunakan prinsip psikologi.
Criminal profiling dapat disusun dengan bantuan teori psikologi. Psikolog forensik dapat membantu polisi melacak pelaku dengan menyusun profil kriminal pelaku. Misal pada kasus teroris dapat disusun criminal profile dari teroris, yang berguna dalam langkah penyidikan di kepolisian maupun masukan bagi hakim (misalnya apakah tepat teroris dihukum mati atau hanya seumur hidup).
Psikolog forensik juga dapat membantu polisi dengan melakukan asesmen untuk memberikan gambaran tentang kondisi mental pelaku.
Pada Korban. Beberapa kasus dengan trauma yang berat menolak untuk menceritakan kejadian yang dialaminya. Psikolog forensik dapat membantu polisi dalam melakukan penggalian informasi terhadap korban, misal pada anak-anak atau wanita korban kekerasan dibutuhkan keterampilan agar korban merasa nyaman dan terbuka. Penggalian korban perkosaan pada anak yang masih sangat belia dapat digunakan alat bantu boneka (Probowati, 2005).
Psikolog forensik dapat melakukan otopsi psikologi. Seorang psikolog dapat menyusun otopsi psikologis berdasarkan sumber bukti tidak langsung yaitu catatan yang ditinggalkan oleh almarhum, data yang diperoleh dari teman, keluarga korban atau teman kerja. Tujuan otopsi psikologi adalah merekonstruksi keadaan emosional, kepribadian, pikiran, dan gaya hidup almarhum. Otopsi psikologi akan membantu polisi dalam menyimpulkan kemungkinan korban dibunuh atau bunuh diri.
Pada saksi. Proses peradilan pidana tergantung pada hasil investigasi terhadap saksi, karena baik polisi, jaksa dan hakim tidak melihat langsung kejadian perkara. Penelitian menemukan hakim dan juri di Amerika menaruh kepercayaan 90 % terhadap pernyataan saksi, padahal banyak penelitian yang membuktikan bahwa kesaksian yang diberikan saksi banyak yang bias. Diperlukan teknik investigasi saksi yang tepat antara lain teknik hipnosis dan wawancara kognitif.
Teknik hipnosis digunakan ketika informasi tentang suatu kejadian tidak ada kemajuan yang berarti atau pada Saksi/korban yang emosional (malu, marah) dan menghilangkan memorinya. Dengan teknik hipnosis, ia merasa bebas dan dapat memunculkan ingatannya kembali.
Wawancara kognitif merupakan teknik yang diciptakan oleh Ron Fisher dan Edward Geiselman tahun 1992. Tujuannya adalah untuk meningkatkan proses retrieval yang akan meningkatkan kuantitas dan kualitas informasi dengan cara membuat saksi/korban merasa relaks, dan kooperatif. Geiselman menemukan bahwa teknik wawancara kognitif menghasilkan 25-35 % lebih banyak dan akurat dibanding teknik wawancara standar kepolisian. Psikolog forensik dapat melakukan pelatihan teknik investigasi saksi pada polisi.
Pengadilan
Peran psikolog forensik dalam peradilan pidana di pengadilan, dapat sebagai saksi ahli, bagi korban (misal kasus KDRT, kasus dengan korban anak-anakseperti perkosaan,dan penculikan anak), dan bagi pelaku dengan permasalahan psikologis (misal Mental retarded, pedophilia, dan psikopat).
Psikolog forensik juga dapat bekerja untuk pengacara dalam memberikan masukan terkait dengan jawaban-jawaban yang harus diberikan kliennya agar tampak meyakinkan. Sebelum persidangan yang sesungguhnya, psikolog merancang kalimat, ekspresi dan gaya yang akan ditampilkan terdakwa agar ia tidak mendapat hukuman yang berat.
Lembaga Pemasyarakatan
Psikolog sangat dibutuhkan di Lapas. Banyak kasus psikologi yang terjadi pada narapidana maupun petugas lapas. Misal pada kasus percobaan bunuh diri narapidana tidak tertangani secara baik karena tidak setiap lapas memiliki psikolog. Pemahaman petugas lapas kurang baik terkait dengan rehabilitasi psikologis sehingga mereka seringkali memberikan hukuman dengan tujuan dapat mengurangi perilaku negatif narapidana (seperti berkelahi, berbohong). Psikolog forensik dibutuhkan dalam rangka melakukan asesmen dan intervensi psikologis pada narapidana.
Guna dapat menjalankan peran sebagai psikolog forensik, seorang psikolog perlu menguasai pengetahuan psikologi dan hukum, serta memiliki ketrampilan sebagai psikolog forensik. Psikologi forensik sebenarnya merupakan perpaduan dari psikologi klinis, psikologi perkembangan, psikologi sosial dan psikologi kognitif. Psikolog forensik memiliki keahlian yang lebih spesifik dibanding psikolog umum. Misalnya di Lapas, dibutuhkan kemampuan terapi (psikologi klinis) yang khusus permasalahan kriminal. Di kepolisian dibutuhkan asesmen yang khusus pada individu pelaku kriminal. Dalam penggalian kesaksian dibutuhkan pemahaman psikologi kognitif. Pada penanganan pelaku/korban/saksi anak-anak dibutuhkan pemahaman psikologi perkembangan. Dalam menjelaskan relasi sosial antara hakim, pengacara, saksi, terdakwa dibutuhkan kemampuan psikologi sosial. Pada saat ini, banyak psikolog yang sudah terlibat sebagai psikolog forensik, namun tidak adanya standar yang jelas membuat psikolog yang terjun di kegiatan forensik menjalankan sesuai dengan pertimbangannya masing-masing. Hal ini berdampak pada penilaian pelaku hukum dan masyarakat yang menjadi bingung dan tidak memahami kinerja psikolog forensik yang beragam. Untuk itulah dibutuhkan suatu asosiasi yang menjadi perekat bagi psikolog yang berminat pada psikologi forensik. HIMPSI sudah membuat asosiasi itu yaitu APSIFOR (Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia)

DAFTAR PUSTAKA
Ancok, D. 1995. Nuansa Psikologi Pembangunan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.
Baron, R.A., Byrne, D. 1991. Social Psychology – Understanding Human Interaction. Singapore : Allyn & Bacon.
Bartol, C.R.; Bartol, A.M. 1994. Psychology and Law. Pasicif Grove, California : Brooks/Cole Publishing Company
Brigham, J.C. 1991. Social Psychology . New York : Harper & Collins.
Costanzo, M. 2004. Psychology Applied to Law. Singapore : Thomson Wadsworth.
Departemen Kehakiman Republik Indonesia. 1982. Pedoman Pelaksanaan Kitab Undangundang Hukum Acara Pidana. Jakarta : Yayasan Pengayoman.
Fisher, R.P., Amador, M., & Geiselman, R.E. 1989. Field Test of The Cognitive Interview : Enhancing the Recollection of Actual Victims & Witnesses of Crime. Journal of Applied Psychology, 74 (5), 722 – 727. Kapardis, A. 1997. Psychology and Law. Cambridge : Cambridge University Press.
Mantwill, M., Kohnken, G., Aschermann, E. 1995. Effect of Cognitive Interview on The Recall of Familiar and Unfamiliar Events. Journal of Applied Psychology , Vol. 80 (1), 68 – 78.
Milne, R. & Bull, R. 2000. Investigative Interviewing. Psychology and Practice. Singapore : John Wiley & Sons. LTD
Moeljatno. 1982. Azas-azas Hukum Pidana. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.
robowati, Y. 2005. Dibalik Putusan Hakim. Kajian Psikologis Hukum dalam Perkara Pidana. Surabaya : Srikandi.
Putwain & Sammons, 2002. Psychology and Crime. New York : Routledge Sanders, G.S., & Simmons, W.L. 1983. Use of Hypnosis to Enhance Eyewitness Testimony : Does it Work ? Journal of Applied Psychology, vol. 68 (1), 70-77.
Solso, R.L. 1991. Cognitive Psychology. Singapore : Allyn and Bacon.
Wrightsman, L.S. 2001. Forensic Psychology. Singapore : Wadworth Thomson Learning.
Zubaidah, J., Probowati, Y., Sutrisno. 2007. Effect of Sex Defendant on Judge Decision Making. Presented on Psychology and Law Conference, Adelaide, Australia. DR. Yusti Probowati R
Read More →

Psikologi Kriminal, yes or no?

0 komentar
PEMINATAN TERAPAN PSIKOLOGI KRIMINAL
Program Magister Sains Terapan merupakan program pendidikan akademik dan tidak mempersiapkan peserta untuk melakukan praktek psikologi sebagai psikolog yang mempunyai izin prakek.
Program ini menghasilkan lulusan yang mampu:
  1.  Mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang psikologi
  2. Merancang dan mengadakan penelitian secara mandiri bagi pengembangan dan penerapan bidang psikologi
  3. Melanjutkan pendidikan studi ke jenjang S-3 untuk memperoleh gelar Doktor dalam psikologi, sesuai dengan persyaratan yang berlaku.
  4. Melakukan pendekatan-pendekatan masalah berdasarkan prinsip-prinsip psikologi.
Persyaratan Calon Peserta
  • Memiliki gelar sarjana dengan IPK minimal 2,75 yang diperoleh dari :
  1. Perguruan Tinggi Negeri yang telah terakreditasi
  2. Perguruan Tinggi Swasta dengan Ijazah yang disamakan oleh Kopertis
  3. Perguruan Tinggi Luar Negeri dengan Ijazah yang telah disahkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Depdiknas RI
  •  Bagi calon peserta Warga Negara Asing (WNA), memiliki kemampuan bahasa Indonesia yang memadai untuk mengikuti program Pascasarjana serta mendapat izin belajar dari Depdiknas RI.
  • Dapat mengikuti kegiatan akademik penuh waktu
  • Memiliki surat ijin belajar dari Instansi/Perusahaan bagi mereka yang bekerja
  • Berbadan sehat yang dinyatakan dengan surat keterangan Dokter
  • Lulus Ujian Masuk
Ujian masuk meliputi :
  • Tes Potensi Akademik
  • Bahasa Inggris
Apabila sudah diterima : Bagi sarjana non psikologi yang lulus seleksi diwajibkan untuk mengikuti kuliah matrikulasi atau pembekalan materi Psikologi.
Kegiatan Kuliah
Berlangsung selama empat semester, pada semester ke-4, peserta diwajibkan membuat tesis. Batas studi maksimum 6 semester.
Waktu Kuliah:   Jumat, pukul 16.00 – 21.00 WIB
Sabtu, pukul  08.00 – 16.00 WIB
Gelar Akademik
Lulusan Program Magister Sains Program Pascasarjana Fakultas Psikologi Universitas Indonesia berhak menyandang gelar Magister Sains, disingkat M.Si.
KURIKULUM
Kuliah Inti:
  • Filsafat Ilmu Pengetahuan
  • Konstruksi Alat Ukur
  • Statistik Lanjut
  • Metodologi Penelitian Terapan
Peminatan Terapan Psikologi Kriminal 
  • Dimensi Psikologi dalam Perilaku Kriminal
  • Psikologi Forensik
  • Psikologi Kesehatan
  • Intervensi Krisis
  • Psikologi dan Budaya
  • Psikologi Komunitas
  • Psikologi Perubahan dan Pengembangan Organisasi
  • Psikologi Konseling
  • Teknik Intervensi Sosial
  • Proposal Tesis
  • Pengembangan Kepribadian
  • Tesis
Sumber http://psikologi.ui.ac.id/psikologi-forensik.html
Read More →

Next Destination (Amien)

0 komentar

Master in Forensics, Criminology and Law

Maastricht University


Forensic research is becoming increasingly important in criminal investigations and the collection of evidence. Lawyers, public prosecutors and judges experience that in their everyday work. The master’s programme in Forensics, Criminology and Law gives you insights into the different disciplines involved in the field of forensic research. You will also take a look at the part the criminal justice system plays within society. You'll take a number of compulsory courses, and you can choose from a wide range of elective courses and internship opportunities.
In this multidisciplinary programme, you’ll explore the big picture of the criminal justice system. You will study subjects of different forensic disciplines, namely psychology, psychopathology, accounting and medicine, covering topics such as:
causes and explanations of criminal behaviour
methods of evidence collection
human behaviours during criminal proceedings
psychological aspects of the search for the truth in criminal law
reliability of witness statements
responsibility
combating fraud and confiscating illegally obtained assets
DNA search in criminal investigations and evidence collection
Your future
With a master’s in Forensics, Criminology and Law, a number of career opportunities are open for you. You can enter the legal profession, working as a lawyer, or within organisations such as the judiciary, the Ministry of Justice or the Public Prosecutor’s Office. Law enforcement services, as well as psychiatric services and institutions, are also looking for people with forensic knowledge. You can also become a professional legal researcher within governmental or educational institutions.
Career prospects
More than 300 students have graduated successfully from the master’s programme in Forensics, Criminology and Law. Alumni have found work as:
lawyers
researchers
policy officers
consultants
forensic advisors
jurists
teachers
anti-fraud coordinators
probation officers

Departemen
Faculty of Law

Pilihan program

Biaya kuliah
€13,000.00 (Rp 181,673,640) per tahun
Tanggal mulai
6 Februari 2017, 4 September 2017
Tempat
Maastricht University
Minderbroedersberg 4-6,
MAASTRICHT,
Limburg,
6211, Netherlands

Persyaratan untuk mahasiswa internasional

Other English Language Requirements: TOEFL 497 (paper-based), 170 (computer based).

Sumber http://www.hotcourses.co.id/


Read More →

Die einzige Möglichkeit, Menschen zu motivieren, ist die Kommunikation

0 komentar
(Lee Iacocca)  Satu-satunya hal yang memungkinkan untuk memotivasi seseorang adalah komunikasi

To : Snowden Pekok
From : Sarah Psikopat

Dears Titik,
I believed that we were wondering what happend each other, I don't know why for exactly but i just wanna say what i can't explain yesterday.

Saya mungkin yang paling bersalah dalam kasus ini, saya akuin hal tersebut dan saya minta maaf. Saya tidak tahu mau memulai dari mana, tetapi disini saya akan menyatakan apa yang belum sempat saya utarakan malam itu.

Hey kamu, malam itu aku merasa kamu marah sama aku. Saya sempat berfikir kamu marah atas kejadian di Haartono sebelumnya. Saat itu ada perbedaan sikap kita yang bertolak belakang, saya sangat mengetahui kamu adalah orang yang paling ga bisa dan suka dicuekin atau pun didiamkan. Tetapi saya adalah orang yang akan berubah menjadi orang paling pendiam dan aneh disaat saya gusar maupun marah. Didalam kepala saya itu hampa, dan saya bener bener butuh waktu untuk sendiri dan menangis sendiri, atau bahkan menyakiti diri saya sendiri. Saya pernah bilang saya bahwa memang benar adanya saya adalah seorang psikopat. Saya mengetahui hal tersebut sejak SMA sejak tes psikotes dan psikolog menemui saya ketika itu. Saya adalah orang yang bisa nekat dan bisa melakukan hal apa saja, bahkan saya tidak takut untuk melakukan hal ekstrem. Saya butuh waktu kurang lebih satu tahun untuk menyembuhkan "keanehan". Skip

Back to topic kita, saya sudah menuliskan alasan kenapa saya berubah sikap malam itu di line. yang tidak kamu baca baca sampai saya kirimkan foto kue ultah itu.jadi saya tidak perlu menyampaikan lagi kan? Saya berfikir karena keanehan dan kepribadian saya yang membuat kamu marah kepada saya. Karena itulah saya minta maaf dan bertanya, tapi sepertinya terlambat. Dosa saya besar dimatamu dan kamu membenci saya. Saya pun sedih...
dan frustasi...
Pagi itu (subuh) saya sudah tidak tahu harus bagaimana....
Dan ada beberapa hal yang akan saya sampaikan lagi;

1) Malam itu semua baik baik saja, sampai si dia line saya. Si dia marah dan cemburu karena saya bersama kamu, dan main dota bersama kamu sedangkan saya tidak mengajak dia. Dia entah kenapa belakangan ini menunjukkan ketidaksukaan terhadap kamu. Dan akhirnya seperti yang saya katakan diline. Saya adalah orang yang paling tidak tahan apabila bertengkar dan dikasarin oleh dia. Dan saya takut, takut apa yg jadi ketakukan saya terjadi. Dan ternyata itu terjadi semua. Saya bisa apa? Jika dia dan kamu marah kepada saya? Saya bisa gila lagi....

2) Saya sudah pernah bilang kan? Kalau saya dan seseorang tidak akan pacaran. Dan itu memang benar adanya, beberapa hari yang lalu saya mengetahui dia berpacaran dengan kakak tingkatnya. Perempuan itu cantik, langsing, pintar, feminim, berbanding terbalik dengan saya. Dan saya bisa tersenyum melihat itu semua

3) Alasan saya menghapus line, dll. Saat saya sampai dikos, hal pertama yang saya lakukan adalah menghapus akun line saya, ask saya, ganti username ig dll, oh iya termasuk unfriend steam kamu. Maafin aku, aku sudah ga tahu lagi harus apa. Saya tahu saya salah, dan saya membuat kesalahan yang mungkin lebih besar. dan saya paham, saat ini kamu pasti sudah benar benar membenci saya. Saya terima kenyataan, dan saya minta maaf.
Alasan saya tidak lebih dan tidak kurang karena kamu dan orang yang sangat dengan kamu. Kenapa? Saya hapus line karena saya tidak mau lagi melihat umpatan maupun kemarahan ataupun kebencian terhadap saya. Cukup sudah saya dicap sebagai perempuan ganjen, gatal, tukang tikung ataupun perusak hubungan orang. Saya tidak marah, saya cuma sedih. Kenapa jadi tiba tiba seperti ini? Pertama saya di unfol, saya folow lagi di reject. Saya berulang kali memfolow akun ig kamu , ig dirinya, bahkan asknya. tapi saat diultah kamu pun saya tetap direject. 
Hei kamu, saya akui saya nyaman denganmu dan saya butuh kamu. Butuh orang yang mendengarkan cerita saya seperti kamu, dana da orang yang bisa saya manjakan. Tapi saya bisa apa? Saya bisa apa saat saya diintimidasi, saya butuh orang untuk cerita. tapi kenyataan tidak ada tempat untuk saya meluapkan semuanya. Dan akhirnya saya berfikir, saya memang pengganggu hubungan kalian dan kamu pun menjauh dari saya. Makanya saya langsung cepat cepat pergi dari kamu, saya hapus akun. Paling tidak meskipun saya ga terucap selamat tinggal, malam itu saya melihat kamu tertawa dan memeluk saya. Mungkin malam itu malam terakhir kita ketemu :"
Berat memang jauh dari kamu, tapi sepertinya ikhlas itu dapat dilakukan :"
Saya ingat kamu ada sekali atau dua kali perna berucap kepada saya, "Kapan kita bisa ketemu lagi?" saat itu saya tidak berfikir kita akan ketemu dan ketemu dan bisa sampai sedekat kemarin, hingga akhirnya sekarang kita berpisah :"

4) Hal keempat saya sudah sampaikan di sms. So selesai yak wwwkkw

5) Hp aku ada dikejaksaan sekarang, siang setelag ketemu kamu polisi hubungi aku untuk mengembalikan hp. dan saya cuma bisa sms atau email, atau line. line via pc. Kemungkinanan sidan lagi 2 minggu lagi.

6) Sekali lagi saya minta maaf sama kamu ya, maaf sudah buat kamu marah dan semakin marah dengan tingkah saya, maafin aku. Tapi aku sudah terima kok kamu marah dan membenci saya. Saya ga tahu saya bisa bertahan berapa lama, tapi saya berusaha bertahan selama mungkin sebisa saya. Meskipun kita ga akan bertemu lagi :"
Oia tolong sampaikan permintaan maaf kepada your love, maafin saya. Maafin sikap saya atau tingkah laku saya yang membuat dia marah sedemikian rupa kepada saya. Maafin saya, gara2 saya dia jadi mmebenci dan mengumpat saya.


Terima kasih kehadiranmu memberikan saya kekuatan baru, jujur saya sedih harus seperti ini. Tapi tidak ada yang bisa saya lakukan lebih dari ini sepertinya.....
Dan sepertinya tidak ada alasan lagi untuk kita bisa bertemu lagi,
Always bahagia ya kamu,
kuliahnhya dirajinkan


:)



Read More →