Blog Asik
Jangan lupa RSS meimiaw :)
Bookmark
di Browser kamu
Punya pertanyaan?
Kirim email ke Mei!

Rabu, 09 Januari 2013

Kisah Perjalanan Hidup Prof. Dr. Ing. BACHARUDDIM JUSUF HABIBIE

6 komentar

Perjalanan Hidup Prof. Dr. Ing. Bj. Habibie
Ketika beliau pergi haji akhir tahun 1982, mendapatkan pujian, “Habibie, dunia ini tidak tuli dan buta. Bahwa, didunia ini terdapat ilmuwan muslim yang mengangkat nama Islam dimata dunia dengan prestasi dan progresifitas.”
-Pengeran Sultan Abdul Aziz (Saudi Arabia)-

Siapa yang tak kenal dengan ilmuwan Islam di abad modern ini, manusia pintar, genius dan mungkin diantara 130 juta penduduk Indonesia. Berbagai ilmu eksakta, sosial, politik dan aeronik telah dikuasai walaupun secara otodidaks maupun akademik. Perjalan hidup B.J. Habibie merupakan pelajaran hidup seorang ilmuwan tanah air yang sukses dimata dunia bukan hanya fiktif ataupun rekayasa melainkan realitas yang nyata dan fakta. Oleh sebab itu pada rubrik ini kita akan mengetahui, siapakah BJ. Habibie? Bagaimanakah beliau mendapatkan prestasi yang gemilang dimata dunia? Faktor apakah yang mendasari kesuksesan beliau baik di Indonesia maupun dirantau?

Tindak Tanduknya
Bj. Habibie lahir di Pare-Pare tepatnya provinsi Ujung Pandang pada tanggal 25 Juni 1936 dengan nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie, putra Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A Tuti Marini Puspowardojo, beliau merupakan anak ke-4 dari delapan bersaudara, sejak kecil beliau telah membangun begron masa depannya yang cemerlang baik dari segi spiritual maupun intelektual. Belajar, membantu orang tua, mengaji dan shalat merupakan rutinitas sehari-hari yang tak pernah ditinggalkan. Oleh sebab itu, sejak duduk di bangku sekolah beliau adalah murid yang jenius, ramah, sopan dan tidak sombong. Sehingga pelajaran eksakta yang sulit seperti, matematika, fisika, kimia, stereo dan geneo dalam sekejap dapat diselesaikan dengan nilai yang baik sekali.
Namun sejak 3 September 1950, bapak beliau meninggal karena mengalami serangan jantung ketika menunaikan shalat Isya’. Dengan perasaan duka yang mendalam R.A Tuti Marini menadahkan tangan kepada Allah untuk meminta ketabahan dalam menghadapi hari-hari selanjutnya. Setelah beberapa saat setelah kematian suaminya beliau langsung memutuskan kepada anak laki-laki pertamanya yaitu Habibie untuk pindah ke Jawa (Bandung) agar dapat meneruskan pendidikannya.
Tetapi jauh dari kehidupan anaknya yang rajin dan tekun belajar, Ny. R.A Tuti Marini tidak merasa tenang, sehingga memutuskan untuk meninggalkan Ujung Pandang sekeluarga untuk transmigrasi ke Bandung dengan menjual rumah dan kendaraannya. Selama menjadi mahasiswa di ITB Habibie memang banyak tertarik dibidang aeromodeling atau model pesawat terbang yang ia buat sendiri.

Menjadi Mahasiswa di Aachean
Pada tahun lima puluhan, belajar diluar negeri masih merupakan hal yang langka, baik dengan beasiswa pemerintah maupun biaya sendiri. Tetapi Ny. R. A Tuti Marini sudah bertekad kepada anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan semaksimal kemampuannya, termasuk keluar negeri B.J. Habibie mendengar sendiri malam ketika ayahnya meninggal, ibunya yang waktu itu mengandung delapan bulan berteriak-teriak dan bersumpah di depan jasad Alwi Jalal Habibie suaminya, bahwa cita-cita suaminya terhadap pendidikan anak-anaknya akan diteruskan. Itulah yang membuat Habibie tidak heran ketika diajak runding ibunya. “Nak, kamu sudah saya dapatkan beasiswa untuk keluar negeri. Sudah ada izin dari P dan K, katanya.”
Kebetulan pada suatu hari ia bertemu dengan Kenkie (Laheru) temannya di ITB. Laheru mengatakan ia akan pergi ke Jerman melanjutkan pendidikan. B.J. Habibie langsung menyatakan bahwasannya ia juga berniat, tetapi bagaimana bisa memperoleh izin dan visa ? Laheru menjawab, sementara ini yang paling penting adalah menghubungi kementerian perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan Jakarta.
Beliau langsung berangkat ke Jakarta dan menemui petugas yang berwenang. Waktu itu beliau ditanya jurusan apa yang paling dikuasai? Beliau menjawab fisika yang termasuk jurusan aeronautika atau intruksi pesawat terbang. Ibu beliau mengirim Habibie keluar negeri dengan alasan, Saya memilih Habibie karena anak itu kelihatan lebih serius dalam hal belajar. Sampai-sampai dibalik pintupun ia bisa membaca buku dengan asyiknya. Sebetulnya, adiknya ada yang ingin melanjutkan sekolah ke luar negeri tapi bagaimana lagi waktu itupun, saya harus melepas seluruh uang tabungan, dan sebagai janda saya tidak memiliki koneksi, sehingga terpaksa saya harus berjuang sendiri demi anak.”
Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Sebelum berangkat ke Jerman, beliau bertemu Prof. Dr. Muhammad Yamin selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, yang waktu itu mengelus-ngelus kepalanya dan berkata, “Kamu inilah harapan bangsa.” Nasehat tersebut merupakan ujian yang harus dilalui dengan sukses oleh B .J. Habibie.


Hidup di Rantau
Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain
Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.
Dalam kelas-kelas yang diikutinya Habibie kadang-kadang menarik perhatian. Pernah suatu hari Habibie mengikuti kuliah yang diberikan oleh Prof. Ebner, tetapi karena terlambat beberapa menit ia masuk ruangan kuliah dengan berhati-hati. Kira-kira setengah jam kemudian, Prof. Ebner berhenti dan menanyakan kepada mahasiswa apakah ada yang belum jelas ataupun bertanya. Tiba-tiba beliau angkat bicara dengan langsung mendebat, sehingga suasana mulai berubah. Dan semakin lama perdepatanpun semakinseru, sampai akhirnya semua mahasiswa satu persatu meninggalkan tempat karena makin panjangnya perdebatan.
Disamping aktif menjadi mahasiswa jurusan aeronik, ternyata kiprah Habibie dalam dunia sosial sangat bagus, beliau mengadakan seminar PPI yang mengupas masalah pembangunan, politik, ekonomi serta sosial di Indonesia.pada tahun 1959 dengan penuh perjuangan dan usaha yang tidak mudah, sehingga beberapa perusahaan beliu kunjungi untuk meminta dana dari proposal yang beliau buat sendiri. Seminar tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang berdomisili di Eropa.
Sementara seminar terealisasikan, beliau terkapar sakit dan mendekam di klinik universitas Bonn dikarenakan serangan influenza yang virus-virusnya masuk ke jantung. Sehingga selama 24 jam, dalam keadaan tidak sadar tiga kali dikembalikan kekamar mayit dari bangsal biasa. Namun, Allah masih memberikan kesempatan bagi beliau untuk meneruskan perjuangannya, dan saat sadar beliau menciptakan sajak, yaitu:
Sajak ini, mengisahkan tekad dan kepasrahannya dalam mengabdi untuk mencapai kemakmuran bangsa bukan untuk dilihat orang tetapi merupakan kewajiban generasi bangsa baik individu maupun kelompok.
Memang tekad suci dan kuat, serta tujuan belajar serta hidup yang suci menjadi dasar kesuksesan beliau dalam bidang akademik. Sehingga pada tahun 1960 meraih gelar Diploma Ing., dengan nilai Cumlaude atau dengan angka rata-rata 9,5. Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.
Sedangkan pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summacumlaude dengan angka rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean. Belum lagi penemuan beliau tentang pemecahan persoalan penstabilan konstruksi di bagian ekor pesawat yang dihadapi oleh Perusahaan HFB (Hamburger Flugzeugbau) yang kini berubah menjadi MBB (Messerschmitt Bolkow Blohm) selama tiga tahun akhirnya dapat diselesaikan oleh Habibie dalam waktu enam bulan. Sehingga, penemuan-penemuan tersebut diabadikan oleh berbagai pihak yang dikenal dengan teori, faktor dan metode Habibie. Kegigihannya dalam mempertahankan pendapat, baik mengenai program-program penelitian maupun yang lainnya membuahkan hasil baginya. Sehingga pada tahun 1974, beliau sudah diangkat menjadi Wakil Presiden dan Direktur Teknologi MBB. Amanat tersebut merupakan jabatan tertinggi yang diduduki oleh orang asing.
Prestasi-prestasi yang diukir di Jerman bukan kunci keberhasilan dan kejayaan bagi beliau, justru hal tersebut sebagai sarana dalam mempersiapkan diri jika kelak berada di tanah air. Pada umur 28 tahun, ketika itu Habibie belum bisa kembali pulang ke Indonesia justru beliau diberi tugas untuk membina kader-kader bangsa yang sedang mendalami konstruksi pesawat. Akhirnya, kader-kader tersebut beliau berikan peluang untuk bekerja di MBB melalui prakarsa yang tidak mudah untuk meyakinkan pihak perusahaan dalam menerima 30 orang Indonesia. Saat Habibie dipanggil untuk pulang ke Indonesia, 30 orang tersebut bersama-sama beliau kembali ke tanah air guna menjalankan tugas yang diberikan oleh presiden Suharto.


Kembali ke tanah air
Presiden Suharto langsung memberi instruksi kepada B.J. Habibie untuk merintis IPTN. Bermodalkan semangat dan tekad yang kuat B.J.Habibie berangkat ke luar negeri guna mengajak industri-industri pesawat terbang lainnya untuk bekerjasama. Di dalam usahanya itu, tantangan besar siap dihalau. Bahkan tamparan keras dirasakan ketika akan berunding dengan sebuah industri pesawat terbang di Kanada. Direktur utama perusahaan menolak untuk bertemu bahkan ketika asisten direktur perusahaan menerimanya, dengan keras mereka menjawab tidak berminat untuk bekerja sama dengan Indonesia dan yang perlu dimengerti oleh anda membangun industri pesawat terbang itu tidak mudah Habibie seharusnya semua mengerti. Dengan kata lain, bangsa Indonesia tidak akan becus membuat pesawat terbang. Karena itu jangan bermimpi.
Tidak ada usaha tanpa hasil didunia ini, akhirnya beliau mendapatkan mitra yaitu CASA Spanyol yang setuju bekerjasama dalam pembuatan NC 212 Aviocar berbaling-baling ganda. Kemudian berdasarkan pengalamannya di Eropa, beliau berhasil membuat persetujuan dengan MBB untuk membuat Helikopter BO-105 dan sebagainya.
Menaiki jenjang karier di Indonesia banyak prestasi yang beliau raih, diantaranya: memimpin industri IPTN, guru besar bidang konstruksi pesawat terbang di ITB, menjadi Menteri Riset dan Teknologi, Wakil Presiden RI, Presiden RI, ketua ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), pemimpin umum The Habibie Center, dan masih banyak prestasi beliau yang diukir baik nasional maupun Internasional. Beliau bagaikan mendayung diantara gelombang, kritik positif maupun tidak membangun tiada henti. Namun apakah kata? Tiada orang yang sempurna didunia ini, maka tikaman dan hujatan beliau hadapi dengan tenang serta tabah.


Charge dalam hidup
Walaupun sibuk dengan urusan bangsa, organisasi dan keluarga, namun nilai-nilai spiritual tetap harus didepankan. Beliau tidak pernah lupa sholat lima waktu, sesekali shalat tahajjud, puasa Senin-Kamis serta menunaikan ibadah haji. Selama di rantau dalam keadaan rindu kepada Tuhan, di manapun tidak memilih tempat, ia berhenti untuk berdoa. Beliau ingat dengan ayahnya yang saleh. Beliau biasa membawa tasbih kemanapun berada. Karena ibadah spiritual merupakan charge (mengisi tenaga) dan secara biologis hal itu berarti menambah kalori dan energi.


Doa BJ Habibie untuk Alm. Hainun
MANUNGGAL
ALLAH, lindungilah kami
Dari segala gangguan, godaan, dan kejahatan
Yang datang dari luar dan dalam
Mencemari yang ENGKAU tanam di diri kami, Bibit Cinta
Cinta, Murnia, Suci, Sejati, Sempurna dan Abadi
Sepanjang masa, kami siram tiap saat dengan kasih sayang
Kamu bernanung dan berlindung dibawah Bibit Cinta ini

Cinta yang telah menjadi kami Manunggal
Manunggal Jiwa, Roh, Batin, dan Nurani kami
Sepanjang masa, sampai Akhirat
Terima kasih Allah, ENGKAU telah pisahkan kami
Sementara berada dalam keadaan berbeda
Isteriku Ainun dalam Dimensi Baru dan Alam Baru
Saya dalam Dimensi Alam Dunia
Terima kasih Allah, sebelum kami dipisahkan
ENGKAU telah jadikan kami manunggal
Saya manunggal dengan Ainun sepanjang masa
Memperbaiki, menyempurnakan dan menyelesaikan
Rumah kami di Alam Dunia sesuai dengan keinginanMu
Ainun manunggal dengan saya sepanjang masa
Membangun “Raga” kami yang Abadi di Alam Baru
Murni, Suci, dan Sempurna sesuai dengan keinginanMU
Terima kasih Allah, ENGKAU telah menjadikan bibit
CintaMu ini paling Murnia, paling Suci, paling Sejati, dan paling Sempurna.
Sifat ini diseluruh Alam Semesta hanya mungkin dimiliki ENGKAU
Jika sampai waktunya
Tugas kami di Alam Dunia dan di Alam Baru selesai
Tempatkanlah kami Manunggal di sisiMu
Karena Cinta Murni, Suci, Sejati, Sempurna, dan Abadi
Dalam “Raga” yang Abadi, dibangun Ainun Manunggal dengan saya Sesuai kehendakMU di Alam Baru sepanjang masa
Jiwa, Roh, Batin, “Raga”, dan Nurani kami, Abadi sampai Akhirat.



Kehidupan Berumah Tangga

            Dulu dirumah Rangga Malela no 11 B, BJ Habibie memberanikan diri mengajak Ainun jalan-jalan dari rumah Rangga Malela ke kampus Fakulstas Teknik Universitas Indonesia atau yang sekarang dikenal dengan ITB, melewati sekolah mereka SMAK. Tanpa mereka sadari waktu berjalan begitu cepat dan mereka berpegangan tangan. Sejak saat itulah beliau dan Ainun secara batin tidak pernah berpisah.
            Semuanya berlangsung dengan cepat. Mereka pun akhirnya menikah bulan Mei. Bulan Juni mereka mengurus cuti ibu Ainun diluar tanggungan negara mengikuti suami ke Jerman, ke Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Pak Sjarif Thayeb, ke Pak Sudjono Djuned Pusponegoro yang pada waktu itu Menteri Riset Nasional, dan ke Pak Toyib Hadiwidjaja selaku Menteri PTIP. Akhirnya, dengan bekal masing-masing satu koper, berangkatlah mereka berdua ke Aachen, Jerman.
            Di Aachen mereka mula-mula menyewa suatu paviliun tiga kamar. Pada permulaanya hidup terasa berat sehingga mereka dibantu seseorang pembersih rumah. Waktu ibu Ainun sudah hamil empat bulan, mereka merasa rumah yang ditinggali akan terlalu kecil untuk mereka bertiga kedepannya.
            Mereka menemukan sebuah rumah susun diluar Aachen. Letaknya di Oberforstbach. Besarnya lumayan, ada kamar keluarga, kamar tidur, kamar anak-anak, dapur, dan kamar mandi. Hidup mulai terasa agak berat. Bukan karena beban pekerjaan di rumah tetapi karena rasa kesendirian.
            Obserforst sebuah desa, kalau mau ke Aachen untuk keperluan tertentu seperti memeriksakan kandungan ke dokter, maka harus naik bis. Bis hanya ada setiap dua jam pagi dan sore hari.
            Hidup mereka terasa sepi, jauh dari keluarga, para sahabat, dan segala-segalanya. Tidak ada yang dapat diajak ngobrol. Berbahasa Jerman pun waktu itu kurang disukai: bahasa Jerma setamat SMA ternyata tidak begitu menolong bagi Ainun, karena sang suami pulang larut malam. Beliau harus bekerja, harus menyelesaikan promosinya.
            Penghasilan mereka pas-pasan: mendapat setengah gaji seorang Diplom Ingineur, oleh karena bekerja setengah hari sebagai Asisten pada Institut Konstriksi Ringan Universitas, enam ratus DM lagi dari DAAD, Dinas Beasiswa Jerman. Untuk menambah penghasilan, Pak Habibie dengan mencuri-curi waktu bekerja sebagai ahli konstruksi pada pabrik kereta api mendisain gerbong-gerbong berkontruksi ringan. Waktu sangat berharga dan harus diatur ketat oleh pasang suami istri ini. Pagi-pagi harus ke pabrik dahulu, kemudian sampai malam diuniversitas. Pukul 10.00 atau pukul 11.00 malam baru sampai dirumah dan menulis disertasi. Kemana-mana naik bis, malah karena kekurangan uang untuk membeli kartu langganan bulanan, dua tiga kali seminggu beliau jalan kaki mengambil jalan pintas sejauh 15 km. Sepatunya berlobang-lobang, baru menjelang musim dingin lobangnya ditambal.
            Soalnya pengeluaran tetap meningkat, disamping keperluan sehari-hari perlu ada tabungan untuk kedepannya. Harus dibayar asuransi kesehatan, dan ternyata asuransi kesehatan bagi wanita hamil cukup tinggi karena memperhitungkan segala kemungkinan, rumah sakit, terjadinya komplikasi, dsb.-nya.
            Pak Habibie mempelajari iklan lapangan kerja. Kebetulan di Aachen ada suatu perusahaan pembuat gerbong kereta api bernama Talbot. Perusahaan ini mencari seorang ahli konstruksi ringan dan canggih sesuai persyaratan Deutsche Bundesbahn, perusahaan kereta api Jerman. Namun tugas dan pekerjaan beliau di Institut Kontruksi Ringan tidak boleh dirugikan. Baik mengajar maupun pelaksanaan riset harus diselesaikan sesuai rencana dan jadwal yang telah ditentukan. Jikalau masalah keuangan dalam rumah tangga beliau selesai, maka beliau harus segera berhenti bekerja di Talbot. Pak Habibie pun menjadi penasehat Direktur Teknik dan Pengembangan Dr. Stiefel, Kepala Pembangunan Kereta Dipl.-Ing. Makosch dan Kepala Konstruksi-Perhitungan Kereta Dipl.-ing. Weckmann yang ketiganya itu berusia diatas 55 tahun yang sangat konservatif pendapat dan filsafat mereka mengenai konstruksi. Pemikiran itu baru khususnya konstruksi ringan yang diterapkan pada konstruksi pesawat terbang tidak dipahami dan tidak begitu diperhatikan.
            Namun mereka sepakat bahwa ia akan diikutsertakan untuk memenangkan tender pusat pengadaan gerbong kereta api dengan memanfaatkan teknologi konstruksi ringan. Tender itu harus diserahkan dalam 6 bulan dan pemenang tender akan ditugaskan untuk membuat prototipe yang akan ditest, baik kelayakan stabilitas maupun kekuatan rangkanya di Pusat Percobaan dan Pengetesan milik Deutsche Bundesbahn (DB) di kota Minden. Jika perusahaan tersebut dapat mengatasi percobaan, maka pemenang tender diberi order yang cukup besar. Biaya pembuatan, pengetesan dsb. Prototipe tersebut dibebankan pada perusahaan Kereta Api Jerman Deutsche Bundesbahn.  Selama proses ini berlangsung, beliau akan mendapat tunjangan bersih sebesar gaji dia di Institut Konstruksi Ringan. Disesuaikan dengan jumlah pesanan, ia akan mendapat “bonus”. Pak Habibie pun merima tawaran ini dan menyanggupi untuk segera bekerja.
            Dalam tiga bulan pertama bekerja di Talbot, ia hampir tidak ada waktu untuk tidur. Banyak pengetahuan dan pandangan baru yang harus ia pahami dan perhatikan. Setelah ia pahami dan mengetahui kendala dan batasan bangun KA, maka dasar dan prinsip penerapan teknologi kontruksi ringan ia terapkan. Beliau merubah konstruksi konvensional dan konservatif yang sejak puluhan tahun diterapkan pada KA dengan prinsip dasar konstruksi ringan yang sudah diterapkan di Industri Dirgantara. Saya mulai memengaruhi dan merubah konstruksi dan bentuk Gerbong di Talbot KA. Para ahli konstruksi di Talbot menggelengkan kepala dan memberi komentar yang sangat kritis. Hampir semua berpendapat bahwa perubahan yang ia usulkan akan gagal. Sikap mereka yang usianya rata-rata dua kali usia beliau, sangat konservatif. Apa yang tidak dikenal susah segera diterima tanpa bukti melalui suatu tes, yang di dalam hal ini masih harus dilaksanakan. Saya bersyukur bahwa justru Dr. Siefel dan Dipl.-Ing. Makosch setelah beliau jelaskan dengan perhitungan dan gambar yang menyakinkan, menerima saran dan usul saya. Tahap demi tahap pekerjaan diselesaikan sesuai rencana baik di Talbot maupun di Kantor Institut Konstruksi Ringan. Ibu Ainun pun selalu mendampingin dan mengilhami beliau, selalu mendengar pemikiran beliau mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang kritis dan menarik, selalu sabar, konsistent memberi semangat, dorongan dengan keyakinan bahwa apa yang saya laksanakan itu adalah yang terbaik. Ia sangat memperhatikan kesehatan beliau. Ia tidak pernah mengeluh karena tidak kebagian waktu. Yang sering diberikan adalah senyuman yang memukau hati dan yang selalu beliau rindukan.
            Tender yang dimenangkan adalah mengenai Gerbong Ruang Luas atau Groβraum Wagen untuk mengangkut muatan ringan seperti produk komponen elektronik. Bersama satu Tim Insinyur perusahaan Talbot yang diperbantu pada Pak Habibie, mereka merekayasa, membuat prototipe Gerbong Ruang Luas yang dites Balai Percobaan dan Penelitian Perusahaan KA Jerman Deutsche Bundebahn di kota Minden. Untuk pertama kalinya Pak Habibie harus meninggalkan Ainun seorang diri dalam keadaan hamil tua tanpa pembantu di desa kecil diluar kota Aachen. Alhamdulilah tetangga Pak Habibie dan Ibu Ainun ada yang bersedia akan menjaga dan memperhatikan Ainun.
            Syukur alhamdulilah semua berjalan lancar dan tugas dapat dikerjakan sesuai rencana, jadwal, dan kontrak dengan perusahaan Talbot. Mereka bersyukur pada Allah SWT karena kepada Ainun beliau dapat serahkan pemasukan tambahan, untuk persiapan kelahiran bayi mereka berdua.
            Akhirnya mereka memiliki cukup dana untuk membeli bahan pakaian dan perabotan rumah tangga pada umumnya, khususnya untuk menyempurnakan kamar tidur anak, tanpa mengorbankan makan sehat. Pak Habibie pun mempunyai lebih banyak waktu untuk menemani Ibu Ainun ke kota kerena kewajiban di Talbot sudah selesai.
            Secara teratur Ainun diperiksa oleh dokter kandungan. Mereka telah menyepakati bahwa jikalau bayi yang lahir itu adalah perempuan, maka Ainun yang memberi nama. Jikalau laki-laki, maka Pak Habibie yang memberi nama. Ibu Ainun memilih nama “Nadia Fitri” yang memiliki arti embun pagi yang selalu suci, sedangkan Pak Habibie memilih nama “Ilham Akbar”.
            Tanggal 15 Mei 1963 pukul 20.00 Ibu Ainun merasa tanda-tanda bayi mereka akan lahir. Dokter kandungan yang mendampingi Ainun selama kehamilan telah mendaftarkan Ainun di RS Umum Aachen. Data-data ibu Ainun termasuk kartu dan nomor asuransi Deutsche Kranken Versicherung AG telah diberikan kepada yang bersangkutan. Sekitar pukul 01.00 sampai 01.30 bayi berkelamin laki-laki mereka lahir pada tanggal 16 Mei 1963 dan diberi nama Ilham Akbar Habibie.
            Setelah Ainun pulang, kehidupan mereka di rumah berubah dengan lahirnya Ilham yang memberi kenikmatan tersediri bagi mereka berdua. Kesibukan Pak Habibie bertambah karena dikejar oleh jadwal penyelesaian program S3 beliau.
            Tahap demi tahap dengan bekerja keras, dorongan, kasih sayang Ainun bersama putra mereka Ilham menjelang hari ulang tahunnya yang pertama, hasil penelitian beliau dinilai sudah memenuhi persyaratan Fakultas Bagian Mesin RWTH-Aachen untuk diajukan sebagai karya S3 dalam tempo yangs sesingkat-singkatnya.
            Pada bulan September 1964 Karya tesis S3 beliau, resmi diserahkan kepada Fakultas Bagian Mesin RWTH-Aachen untuk disidangkan pada sidang paripurna fakultas yang akan datang. Bulan April 1965, beliau merima surat keputusan Sidang Paripurna Fakultas Bagian Mesin RWTH-Aachen, yang menyatakan beliau diterima setelah dipelajari oleh pusat keunggulan ristek dunia yang sedang mengadakan penelitian bidang Karya S3nya. Beliau pun dipersilahkan memberi kuliah umum mengenai Karya S3nya pada hari Kamis tanggal 15 Juli 1965.
            Setelah melaksanakan Kuliah Umum S3 dan dinyatakan lulus dengan nilai penilaian “Sehr Gut” atau sangat baik. Karena Karya S3 beliau mengenai konstruksi ringan pada kecepatan Supersonic bahkan Hypersonic, maka ia tidak hanya saja menerima surat ajakan bergabung dengan Boeing di Amerika, bahkan merima wakilnya di kantor atas sepengetahuan Profesornya. Pekerjaan dan fasilitas yang ditawarkan sangat menarik dan menyakinkan.
            Diskusi antara beliau dengan Ibu Ainun mengenai masa depan mereka dan pembangunan Indonesia sangat mendalam dan lebih susah memutuskan. Akhirnya Ainun menyerahkan keputusan kepada saya dengan persyaratan tidak lupa dan mengingkari sumpah yang pernah beliau ucapkan ketika sakit keras dan berbaring seorang diri dirumah sakit. Sumpah Pak Habibie itu;

Terlentang ! Jatuh ! Perih ! Kesal !
Ibu pertiwi
Engkau pegangan
Dalam perjalanan
Janji Pusaka dan Sakti
Tanah Tumpa daraku makmur dan suci
.........
Hancur badan !
Tetap berjalan !
Jiwa Besar dan Suci
Membawa aku PADAMU !

Arti , padamu adalah Indonesia makmur dan suci yang mengandalkan pada keunggulan SDMnya.
            Setelah mereka renungkan bersama, tawaran Boeing mereka tolak dan memutuskan agar melamar pada perusahaan kecil di Hamburg dengan karyawan sekitar 4000 orang dan bernama “Hamburger Flugzeug Bau atau HFB”.
            Sejak tanggal 1 September 1965 Pak Habibie mulai bekerja di perusahaan Hamburger Flugzeug Bau atau HFB. Mereka pindah dari desa Oberforstbach dekat dengan Aachen ke Hamburg kota terbesar di Jerman Barat. Karena kesibukan di kantor , Pak Habibie tidak menyadari bahwa Ainun sedang mengandung bayi mereka yang kedua. Ainun memperkirakan awal Juni 1966 kemungkinan bayi mereka akan lahir. Nama yang dinginkan Ainun jikalau bayi seorang putri. Namun jikalau pria beliau usulkan diberi nama Thareq dan nama kedua diserahkan kepada Ainun, Ainun memberi nama Kemal sehingga Thareq Kemal berarti Perintis yang Sempurna.
            Kamis tanggal 9 Juni 1966 di Rumah Sakit Universitas Hamburg Eppendorf sekitar pukul 11.00 bayi kedua mereka lahir dalam keadaan sehat dan bayinya adalah laki-laki dan diberi nama Thareq Kemal Habibie. Pada waktu itu keadaan Indonesia sangat labil dan diambang pintu kehancuran dengan indikator makro ekonomi yang tidak menguntukan dan menentu. Setahun setelah beliau bekerja di perusahaan HFB, pada bulan September 1966 beliau bertemu dengan Panglima Angkatan Udara (Pangau) Marsekal Roesmin Nuryadin yang atas undangan pemerintah Jerman dengan timnya sebanyak 5 tokoh Angkatan Udara berkunjung ke perusahaan HFB tempat Pak Habibie bekerja. Ia datang untuk bersilahturahmi, melihat semua fasilitas dan berdiskusi mengenai wawasan masa depan Industri Dirgantara di Indonesia.
            Hanya beberapa minggu kemudian dalam bulan Oktober 1966, Pak Habibie mendapat kehormatan untuk bertemu dengan Bapak Mashuri Saleh SH, Direktur Jenderal Perguruan Tinggi di Depatemen Pendidikan dan Kebudayaan.
            Bulan Desember 1966, Pak Habibie menerima undangan untuk menghadiri resepsi dan jamuan makan malam yang diadakan oleh Pemerintah Daerah Bremen dalam rangka menghormati kunjungan resmi Menteri Luar Negeri Bapak Adam Malik. Pada tahun 1968 untuk 2 bulan lamanya, Insya Allah mereka sekeluarga akan ke Indonesia. Satu bulan dinas dan satu bula berlibur.
            Pak Habibie dan Ibu Ainun bekerja keras dan menikmati setiap detik yang diberikan Allah SWT dengan meletakkan jejak yang indah dengan perasaan khusus yang dikalbui oleh cinta yang murni, suci, sejati, sempurna, dan abadi. Sehingga semua yang tidak mungkin menjadi mungkin.
            Dengan  menggunakan pesawat perusahaan CSA dari  Hamburg ke Indonesia melalui Praha, Kairo, Karachi, Bangkok, dan Singapura, kami tiba di Jakarta pada hari Sabtu tanggal 10 Februari 1968. Ketika mereka meletakkan kaki diatas bumi Indonesia, mereka panjatkan doa kepada Allah SWT, bersyukur telah tiba dengan selamat membawa Ainun bersama Ilham dan Thareq ke Tanah Air tercinta.
            Minggu pertama di Indonesia Pak Habibie sibuk melaksanakan persiapan kedatangan tim Jerman yang akan dipimpin oleh beliau untuk melihat fasilitas di Jakarta, Bandung, Semarang, Yogya, Solo, Madiun, Surabaya, dan Malang. Pertemuan dengan Dirjen Dr. Salamun menghasilkan penyusunan rencana kunjungan keliling tim Jerman dan tim pendamping Indonesia yang dipimpin oleh Ir. Edy Sanyoto. Diputuskan rombongan akan memakai transportasi mobil dan peninjauan diakhiri dengan kunjungan ke fasilitas disekitar Surabaya, kemudian dari Surabaya akan memakai pesawat terbang Garuda kembali ke Jakarta.
            Tanpa Pak Habibie sadari, tiba waktunya untuk kembali ke Hamburg melanjutkan tugas utama mereka di HFB. Mereka bersyukur dapat membantu meletakkan dasar masa depan bangsa yang mengandalkan pada potensi SDM dan teknologi melalui silahturahmi :
·         Memiliki pandangan dan data yang lebih luas, objektif, dan tepat mengenai kendala yang sedang dan akan dihadapi jikalau pembangunan Industri Dirgantara di Indonesia harus dimulai
·         Konsolidasi potensi SDM bidang Dirgantara
·         Membawa Ainun, Ilham, dan Thareq kembali bersilahturahmi dengan Keluarga Besar Besari, Keluarga Besar Habibie, dan Keluarga Besar teman-teman mereka.
Semua acara dapat dilaksanakan tanpa membebani Pemerintah Indonesia, halal dan mandiri diilhami oleh wajah senyuman sang istri tercinta dan dilindungi Allah SWT. Terima Kasih Allah SWT.
Setibanya di Hamburg Pak Habibie harus langsung terjun ke penyelesaian masalah rekayasa yang sudah menumpuk dan hampir 9 minggu tidak diselesaikan secara tuntas. Terpaksa beliau lembur. Walaupun kerja lembur dibiayai secara progesif, namun yang menajadi korban adalah Ainun, Ilham, dan Thareq. Mereka hampir tidak mendapatkan waktu dari Pak Habibie yang tidak akan mungkin bisa digantikan dengan uang.
Sementara itu, tindak lanjut kunjungan ke Indonesia dan proses penempatan beberapa kader teknologi di perusahaan HFB dapat berjalan lancar sesuai rencana. Beliau berhasil menyakinkan pimpinan HFB bahwa kader teknologi Indonesia semuanya sudah dipilih secara objektif dan telah mendapat pendidikan yang terbaik dan hasil yang terbaik pula. Pada tahun 1969 beberapa kader teknologi mulai datang, seperti Ir. Harsono Pusponegoro, Ir. Rahardi Ramelan, Ir. Surasno Paramayuda, Ir. Sofian Nasution, Ir. Abdul Munaf Gayo, dan Ir. Jermani Senjaya. Rombongan kedua datang pada tahun 1970 seperti Ir. Sutadi Suparlan, Ir. Gunawan Sakri, dan Ir. Oetaryo Diran.
            Pada suatu hari, protokol KBRI dan Deplu Republik Federal Jerman di Bonn, Senin tanggal 31 Agustus 1970 menginformasikan bahwa pada hari Jumat tanggal 4 September 1970, Presiden Soeharto akan mulai kunjunganresminya selama 3 hari di Republik Federal Jerman. Pak Habibie pun diminta supaya sudah berada di Bonn pada hari Sabtu tanggal 5 September 1970.
Inilah pertama kalinya Pak Habibie bertemu dengan Presiden Soeharto setelah beliau menjadi Presiden. Laporan kunjungan, saran, dan usul Pak Habibie difahami oleh Pak Presiden Soeharto. Beliau meminta sabar dan mengadakan persiapan seperlunya. Jikalau keadaan sudah mengizinkan untuk memulai membangun “industri strategis”, maka Pak Harto akan memanggil Pak Habibie pulang. Sementara Pak Habibie diharapkan terus konsolidasi dan mempersiapkan kader SDM yang handal dan kelak sebagai aset dan cikal bakal pembangunan. Beliau berharap agar teknologi yang dimanfaatkan dicek, dan Pak Habibie bisa memberikan tanggapan besok pada tanggal 6 September 1970, sebelum kunjungan resmi di Republik Federal Jerman diakhiri dan Pak Habibie pun menyanggupi permintaan dari Bapak Presiden Soeharto.
Ketika pada tanggal 25 Januari 1974, Pak Habibie memasuki Pesawat Lufthansa Boeing 747 di Frankfurt menuju Jakarta lewat Singapura. Dengan hati sedikit berdebar, beliau tiba di Lapangan Terbang Kemayoran Jakarta pada hari Sabtu tanggal 26 Januari 1974 pukul 19.00.






PUISI BJ HABIBIE untuk Alm. Ibu Hainun

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.
Karena, aku tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya, dan kematian adalah sesuatu yang pasti, dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi, aku sangat tahu itu.
Tapi yang membuatku tersentak sedemikian hebat, adalah kenyataan bahwa kematian benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri seseorang, sekejap saja, lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati, hatiku seperti tak di tempatnya, dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.
Kau tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang. Pada airmata yang jatuh kali ini, aku selipkan salam perpisahan panjang, pada kesetiaan yang telah kau ukir, pada kenangan pahit manis selama kau ada. Aku bukan hendak megeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini.
Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang, tanpa mereka sadari, bahwa kaulah yang menjadikan aku kekasih yang baik. Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua, tapi kau ajarkan aku kesetiaan, sehingga aku setia, kau ajarkan aku arti cinta, sehingga aku mampu mencintaimu seperti ini.
Selamat jalan, Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya, kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.
Selamat jalan sayang, cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan, calon bidadari surgaku ….


Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
           
            Pada tahun 1968, BJ Habibie telah mengundang sejumlah insinyur  untuk bekerja di industri pesawat terbang Jerman. Sekitar 40 insinyur Indonesia akhirnya dapat bekerja di MBB atas rekomendasi Pak Habibie. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan skill dan pengalaman (SDM) insinyur Indonesia untuk suatu saat bisa kembali ke Indonesia dan membuat produk industri dirgantara (dan kemudian maritim dan darat). BJ Habibie bersedia dan melepaskan jabatan, posisi dan prestise tinggi di Jerman. Hal ini dilakukan BJ Habibie demi memberi sumbangsih ilmu dan teknologi pada bangsa ini. Pada 1974 di usia 38 tahun, BJ Habibie pulang ke tanah air.  Iapun diangkat menjadi penasihat pemerintah (langsung dibawah Presiden) di bidang teknologi pesawat terbang dan teknologi tinggi hingga tahun 1978. Meskipun demikian dari tahun 1974-1978, Habibie masih sering pulang pergi ke Jerman karena masih menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB.
Habibie mulai benar-benar fokus setelah ia melepaskan jabatan tingginya di Perusahaan Pesawat Jerman MBB pada  1978. Dan sejak itu, dari tahun 1978 hingga 1997, ia diangkat menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya
Ketika menjadi Menristek, Habibie mengimplementasikan visinya yakni membawa Indonesia menjadi negara industri berteknologi tinggi. Ia mendorong adanya lompatan dalam strategi pembangunan yakni melompat dari agraris langsung menuju negara industri maju. Visinya yang langsung membawa Indonesia menjadi negara Industri mendapat pertentangan dari berbagai pihak, baik dalam maupun luar negeri yang menghendaki pembangunan secara bertahap yang dimulai dari fokus investasi di bidang pertanian.

Tiga tahun setelah kepulangan ke Indonesia, Habibie (usia 41 tahun) mendapat gelar Profesor Teknik dari ITB. Selama 20 tahun menjadi Menristek, akhirnya pada tanggal 11 Maret 1998, Habibie terpilih sebagai Wakil Presiden RI ke-7 melalui Sidang Umum MPR. Di masa itulah krisis ekonomi (krismon) melanda kawasan Asia termasuk Indonesia.
Soeharto mundur, maka Wakilnya yakni BJ Habibie pun diangkat menjadi Presiden RI ke-3 berdasarkan pasal 8 UUD 1945. Namun, masa jabatannya sebagai presiden hanya bertahan selama 512 hari. Meski sangat singkat, kepemimpinan Presiden Habibie mampu membawa bangsa Indonesia dari jurang kehancuran akibat krisis. Presiden Habibie berhasil memimpin negara keluar dari dalam keadaan ultra-krisis, melaksanankan transisi dari negara otorian menjadi demokrasi. Sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan multi parti (48 partai), sukses membawa perubahan signifikn pada stabilitas, demokratisasi dan reformasi di Indonesia.
Habibie merupakan presiden RI pertama yang menerima banyak penghargaan terutama di bidang IPTEK baik dari dalam negeri maupun luar negeri.


Kehidupan anak – anak
Masa kecil Habibie dilalui bersama saudara-saudaranya di Pare-Pare, Sulawesi Selatan. Sifat tegas berpegang pada prinsip telah ditunjukkan Habibie sejak kanak-kanak. Habibie yang punya kegemaran menunggang kuda dan membaca ini dikenal sangat cerdas ketika masih menduduki sekolah dasar. Selama bersekolah, Habibie tidak pernah merosot sampai ke peringkat tiga, beliau selalu mendapat peringkat satu kalau tidak ya peringkat dua dikelasnya. Kecerdasannya itulah yang membawa beliau meraih kesuksesan sampai saat ini dimasa tuanya, meraih gelar vice president di MBB Jerman suatu perusahaan pesawat berteknologi tinggi, serta gelar dan prestasi tinggi lainnya yang belum pernah diraih oleh warga Indonesia manapun. Tak lama setelah ayahnya meninggal, Ibunya kemudian menjual rumah dan kendaraannya dan pindah ke Bandung bersama Habibie, sepeninggal ayahnya, ibunya membanting tulang membiayai kehidupan anak-anaknya terutama Habibie, karena kemauan untuk belajar Habibie kemudian menuntut ilmu di Gouvernments Middlebare School. Di SMA, beliau mulai tampak menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya.


Kehidupan Masa Dewasa
Karena kecerdasannya, Setelah tamat SMA di bandung tahun 1954, beliau masuk di ITB (Institut Teknologi Bandung), Ia tidak sampai selesai disana karena beliau mendapatkan beasiswa dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan kuliahnya di Jerman, karena mengingat pesan Bung Karno tentang pentingnya Dirgantara dan penerbangan bagi Indonesia maka ia memilih jurusan Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH)Ketika sampai di Jerman, beliau sudah bertekad untuk sunguh-sungguh dirantau dan harus sukses, dengan mengingat jerih payah ibunya yang membiayai kuliah dan kehidupannya sehari-hari. Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1955 di Aachean, 99% mahasiswa Indonesia yang belajar di sana diberikan beasiswa penuh. Hanya beliaulah yang memiliki paspor hijau atau swasta dari pada teman-temannya yang lain Musim liburan bukan liburan bagi beliau justru kesempatan emas yang harus diisi dengan ujian dan mencari uang untuk membeli buku. Sehabis masa libur, semua kegiatan disampingkan kecuali belajar. Berbeda dengan teman-temannya yang lain, mereka; lebih banyak menggunakan waktu liburan musim panas untuk bekerja, mencari pengalaman dan uang tanpa mengikuti ujian.
Beliau mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5, Dengan gelar insinyur, beliau mendaftar diri untuk bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman. Pada saat itu Firma Talbot membutuhkan sebuah wagon yang bervolume besar untuk mengangkut barang-barang yang ringan tapi volumenya besar. Talbot membutuhkan 1000 wagon. Mendapat persoalan seperti itu, Habibie mencoba mengaplikasikan cara-cara kontruksi membuat sayap pesawat terbang yang ia terapkan pada wagon dan akhirnya berhasil.

Setelah itu beliau kemudian melanjutkan studinya untuk gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean kemudian Habibie menikah pada tahun 1962 dengan Hasri Ainun Habibie yang kemudian diboyong ke Jerman, hidupnya makin keras, di pagi-pagi sekali Habibie terkadang harus berjalan kaki cepat ke tempat kerjanya yang jauh untuk menghemat kebutuhan hidupnya kemudian pulang pada malam hari dan belajar untuk kuliahnya, Istrinya Nyonya Hasri Ainun Habibie harus mengantri di tempat pencucian umum untuk mencuci baju untuk menhemat kebutuhan hidup keluarga. Pada tahun 1965 Habibie mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.


Pendidikannya
·         SD dan SMP di Pare – Pare (Sulawesi Selatan)
·         SMA di bandung tahun 1954
·         ITB (Institut Teknologi Bandung)
·         Teknik Penerbangan dengan spesialisasi Konstruksi pesawat terbang di Rhein Westfalen Aachen Technische Hochschule (RWTH) mendapat gelar Diploma Ing, dari Technische Hochschule, Jerman tahun 1960 dengan predikat Cumlaude (Sempurna) dengan nilai rata-rata 9,5
·         gelar Doktor di Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean mendapatkan gelar Dr. Ingenieur dengan penilaian summa cumlaude (Sangat sempurna) dengan nilai rata-rata 10 dari Technische Hochschule Die Facultaet Fuer Maschinenwesen Aachean.
·         pada tahun 1967, menjadi Profesor kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung
·         kejeniusan membuat lembaga internasional memberi penghargaan dan pengakuan di antaranya, Gesselschaft fuer Luft und Raumfahrt (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar) Jerman, The Royal Aeronautical Society London (Inggris), The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences (Swedia), The Academie Nationale de l'Air et de l'Espace (Prancis) dan The US, Academy of Engineering (Amerika Serikat, Edward Warner Award dan Award von , penghargaan tertinggi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ganesha Praja Manggala Bhakti Kencana

Kehidupan Masa Tua

·         Beliau tetap pulang pergi Jerman – Indonesia karena di Jerman dia masih mengurusi MBB, dan diIndonesia, beliau tetap eksis dalam mengurusi organisasi “Habibie Centre”.

Kehidupan Berkarier/Bekerja

·         bekerja di Firma Talbot, sebuah industri kereta api Jerman

·         Menjabat sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) sekaligus merangkap sebagai Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Disamping itu Habibie juga diangkat sebagai Ketua Dewan Riset Nasional dan berbagai jabatan lainnya

·         Presiden Habibie berhasil memimpin negara keluar dari dalam keadaan ultra-krisis, melaksanankan transisi dari negara otorian menjadi demokrasi. Sukses melaksanakan pemilu 1999 dengan multi parti (48 partai), sukses membawa perubahan signifikn pada stabilitas, demokratisasi dan reformasi di Indonesia.

·         menjabat sebagai Vice Presiden dan Direktur Teknologi di MBB

Kehidupan Beragama

·         Habibie dan Ainun sangat religius dan luar biasa, mereka selalu berpuasa senin – kamis dan selalu membaca al – Qur’an satu juz setiap hari bersama – sama.
·         Walaupun sibuk dengan urusan bangsa, organisasi dan keluarga, namun nilai – nilai spiritual tetap harus didepankan.
·         Beliau tidak pernah lupa sholat lima waktu, sesekali sholat tahajjud, puasa senin – kamis, serta menunaikan ibadah haji.
·         Selama dirantau dalam keadaan rindu dengan Tuhan, dimanapun tidak memilih tempat ia selalu berdoa tanpa henti, beliau adalah ayah yang saleh, beliau selalu membawa tasbih kemanapun pergi.
·         “Ibadah spiritual merupakan charge ( mengisi tenaga) dan secara biologis hal itu berarti menambah kalori dan energi”, ungkap Pak Habibie.

Ucapannya
·         Setiap berbicara mengenai apapun, beliau tidak pernah berbelit – belit, tegas, meyakinkan, ilmiah, dan penuh pendirian serta percaya diri.
·         Setiap perbuatan dan perkataannya selalu melibatkan Tuhan dan keluarga, karena tidak semua orang bisa mempertahankan konsistensi antara kejayaan, Tuhan dan keluarga.
·         Bangsa ini adalah bangsa besar yang terdiri dari ribuan pulau. Negara ini dipersatukan oleh kapal dan pesawat. Selain itu, kita butuh industri strategis. Industri yang menggerakkan industri-industri lain. Kita mendidik anak-anak kita di perguruan tinggi. Tapi kita tidak menyiapkan lapangan kerja untuk mereka. Atas logika yang jernih itulah keberadaan industri strategis perlu dipertahankan. Meskipun untuk membangunnya membutuhkan dana yang besar. Tapi ketika berhasil, nilai tambah yang dihasilkan jauh melebihi dari dana awal yang investasi.
·         Bismilahirarahmanirrahim! Atas nama isteri, keluarga, dan semua pakar Dirgantara dimanapun anda berada, yang masih hidup atau tiada lagi, saya menyatakan terima kasih mewakili anda semua menerima penghargaan, untuk jasa mereasilisasikan cita-cita pendiri dan para anggota ICAO. Ini membuktikan bahwa penguasaan dan pengendalian IPTEK bukan hak prerogatif kaya atau masyarakat maju, tetapi adalah hak prerogatif umat manusia di manapun ia berkarya! (Pidato BJ Habibie saat menerima penghargaan “Edward Warner Award” 7 Desember 1994 di Pusat ICAO, Montreal.
·         I have some figures which compare the cost of one kilo of airplane compared to one kilo of rice. One kilo of airplane costs thirty thousand US dollars and one kilo of rice is seven cents. And if you want to pay for your one kilo of high-tech products with a kilo of rice, I don’t think we have enough.” (Sumber : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)
·         No, to be frank. I am only interested in the answer to where should I be to give the maximum contribution to my society and the human race. But I am sure that until my last minutes of being alive, I will always dedicate myself to my society." (Sources : BBC: BJ Habibie Profile -1998.)
·         Ilmu Dirgantara dan maritim, harus dikuasai secara mandiri, itu bukan idenya Pak Harto, bukan idenya Pak Habibie, idenya generasinya Bung Karno yang dicetuskan oleh Bung Karno, kami adalah pelaksananya,” (Bacharuddin Jusuf Habibie, Gedung DPRD Sulawesi Selatan)
·         Untuk saat sekarang ini, keterampilan bisa dimiliki sehingga membuat prasarana dan peralatan dapat terus disempurnakan. Keterampilan tidak dapat dipisahkan dari perencanaan, perekayasaan, dan pembuatan apa saja yang dibutuhkan manusia dengan memanfaatkan “teknologi” dengan cara dan teknik dapat memiliki apa yang diinginkan dengan pengorbanan minimal“. (Bacharuddin Jusuf Habibie, Doctor  Honoris Causa dalam bidang Filsafat Teknologi, Universitas Indonesia, Indonesia, 2010).



Perjuangan/Pengorbanan

·         Berkat Pak Habibi, Indonesia pernah dikenal kejayaannya dalam industri dan pendidikan, kita memilikipesawat terbang pertama untuk kemiliteran dan nilai tukar rupiah terhadap dollar bisa meroket mencapai Rp 6.500 per dollar AS, hal yang tidak pernah dapat dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Selain itu ia juga menerapkan independensi Bank Indonesia agar fokus mengurusi perekonomian perbankan.

·         Beliau terpaksa membebaskan Timor – Timur dari Indonesia, lepasnya Timor – Timur disatu sisi memang disesali berbagai pihak dan menjerumuskan Habibi dalam masalah kepemimpinannya karena dianggap tidak reformatis dan nasionalis, tapi disisi lain alasan Habibi melakukan hal itu dikarenakan untuk membebaskan Bangsa Indonesia dari tuduhan – tuduhan pelanggaran HAM di Timor – Timur yang sudah terlanjur parah dan merusak nama Indonesia di mata dunia.


Kehidupan Bermasyarakat
            Dalam kehidupan bermasyarakat B.J Habibie kurang dalam membaur dengan masyarakat sekitarnya. Hal ini dikarenakan B.J Habibie terlalu sibuk bekerja sehingga tidak mempunyai banyak waktu untuk membaur dengan masyarakat disekelilingnya.


Kesimpulannya,
perjalan hidup B.J.Habibie tidak selalu lurus dan indah, namun ibarat mendayung di antar ribuan orang pintar pastilah ada cobaan, tikaman dan hujatan dari orang lain melalui kritik positif maupun yang tidak membangun. Namun, semuanya beliau atasi dengan tenang serta ibadah spiritul sebagai charge dalam hidup. Dan, berbakti kepada kedua orang tua bagi beliau merupakan kunci kesuksesan utama yang membawa beliau kejenjang kesuksesan dan prestasi baik tingkat dunia maupun Internasional.
Dikutip dari,
Buku The True Life of Habibie (Cerita di Balik Kesuksesan).






By : Andi Meiria Kurnia Utami

6 komentar:

  1. Lengkap sekali Biografinya, mantap

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika saudara punya referensi yang lain boleh kok menambahkan , biar data yang saya punya juga lebih banyak. Terima kasih kunjungannya :)

      Hapus
  2. Pastinya keluarga besar Habibie memiliki nilai-nilai yang luhur...

    BalasHapus
  3. Apakah postingan anda boleh di copy
    terima kasih....

    BalasHapus
  4. Bapak teknologi yang pintar, bijak dan cerdas. Kita bangga dengan memiliki sosok yang hebat seperti beliau.


    BJ. Habibie

    BalasHapus