Blog Asik
Jangan lupa RSS meimiaw :)
Bookmark
di Browser kamu
Punya pertanyaan?
Kirim email ke Mei!

Rabu, 09 Oktober 2013

Reportase dari PEMBEBASAN Jogja-Jateng: “Komunitas Visit”:

1 komentar



Arie Lamondjong

Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (PEMBEBASAN) Kolektif Wilayah Yogyakarta mengadakan program “Komunitas Visit” (kunjungan komunitas) pada hari minggu 6 oktober 2013 di pesisir pantai parangkusumo tepatnya di posko ARMP (Aliansi Rakyat Menolak Penggusuran). Program komunitas visit diikuti oleh mahasiswa calon anggota dan anggota PEMBEBASAN yang berasal dari beberapa kampus di Yogyakarta (UMY, UGM, UIN, UST, UII, AKPRIND dan APMD). Tujuan komunitas visit yaitu untuk menunjukan kepada mahasiswa realitas yang dihadapi oleh warga parangkusumo dengan berdiskusi situasi dan perjuangan warga parangkusumo.

Ada beberapa agenda yang diadakan pada komunitas visit : pertama, mahasiswa melakukan diskusi bersama warga parangkusumo (anggota ARMP) di posko ARMP parangkusumo mengenai situasi ekonomi – politik Parangkusumo dan sejarah perjuangan warga Parangkusumo khususnya ARMP. Kedua, peserta komunitas visit secara berkelompok melakukan wawancara terhadap warga parangkusumo. Ketiga, diskusi kelompok untuk membahas sketsa tulisan yang akan dibuat.

Penggusuran pemukiman warga parangkusumo menjadi topik hangat yang dibicarakan. Penggusuran pemukiman warga di pesisir pantai parangkusumo sudah terjadi sejak tahun 2006. Hingga saat ini ada sekitar 6 warga belum mendapat ganti rugi dari penggusuran ditahun 2007. Pak watin (kordinator ARMP) menegaskan bahwa"Warga parangkusumo makan saja sudah susah tempat tinggalnya 4×3 m bahkan ada yang tidak memiliki tempat tinggal,warga diancam penggusuran dengan alasan tanah milik sultan ground,lalu apalagi yang kitabisa percayakan kepada pemerintah, bohong kalau penggusuran itu dapat mensejahterakan rakyat,bahkan Pelarangan Prostitusi itu bagian dari mempermulus penggusuran di Parangkusumo". Perda Pelarangan Pelacuran Kab. Bantul membuat keadaan di Parangkusumo semakin parah. Perda tersebut menjadi alasan Pemkab Bantul untuk melakukan penggusuran pesisir pantai Parangkusumo yang notabenenya tempat pelacuran. Warga parangkusumo hidup dari memamfaatkan keramaian pengunjung pantai. Operasi yang sering dilakukan oleh Satpol PP berimbas pada menurunnya keramaian pantai parangkusumo otomatis mengencangkan ikat pinggang warga parangkusumo karena dagangan tidak laku. Persoalan makan, tempat tinggal, pekerjaan merupakan persoalan umum yang di hadapi oleh rakyat Indonesia. Sementara itu, elit politiknya sibuk menggusur rakyatnya, sibuk korupsi, sibuk berebut menjadi antek kapitalis. Hingga tanah, gunung dan laut indonesia terkuras habis oleh kapitalisme.  

Pendiskusian PEMBEBASAN dan ARMP di posko semakin hangat dengan berbagai komentar dari warga dan mahasiswa. Salah satu komentar yang menarik dari Ngajiono pengurus ARMP yang mengatakan “Tuntutan tertinggi kami adalah kelayakan hidup sebagai manusia,kami rakyat biasa tidak sekolah,kami miskin, modal perjuangan kami adalah berani, keberanian tersebut kami dapat dari belajar dan sabar dalam berjuang, saya berharap teman - teman mahasiswa sebagai tulang punggung negara dapat bersama - sama dengan kami menemukan solusi atas kekacauan ini". Sebagai mahasiswa kita tidak bisa berharap rakyat mendatangi kita (mahasiswa) untuk memecahkan persoalannya. Mahasiswa yang memiliki waktu luang untuk belajar dan berfikir. Mahasiswa punya tanggung jawab pengetahuan harusnya sanggup menghampiri rakyat, memberikan pengetahuan, membantu mengorganisasikan perlawanan rakyat, mengembalikan kepercayaan diri rakyat karena hanya dengan kekuatan rakyat tertindaslah dapat menumbangkan kezaliman Kapitalisme.

Tidak semua rakyat dapat menikmati menjadi mahasiswa. Sehingga alangkah berharganya menjadi mahasiswa yang berpengetahuan. Persoalannya, akan diabdikan kemana pengetahuan yang didapat untuk penindas atau tertindas. Aldi ketua kolektif wilayah pembebasan mengatakan "secara umum rakyat, mahasiswa dan buruh memiliki musuh bersama yaitu kapitalisme penyebab pendididkan mahal, upah murah, penggusuran dll, sehingga perjuangan harus disatukan untuk menghancurkan musuh bersama kita yaitu kapitalisme". untuk mempercepat kehancuran kapitalisme mahasiswa harus memiliki alat perjuangan yang tepat dan mengabdikan pengetahuannya kepada yang tertindas.

Dipenghujung diskusi bu kawit berkomentar harapan besarnya sebagai warga parangkusumo yang sewaktu – waktu dapat digusur bahwa “angan – angan saya adalah revolusi, karena saya tidak percaya dengan pemerintah sekarang ini karena tidak merubah keadaan. Kami disini tidak hanya ingin mendapatkan sertifikat tanah tapi kami ingin mengusahakan revolusi”.

Setelah diskusi dengan warga parangkusumo, peserta komunitas visit membagi tiga kelompok untuk menuliskan masalah – masalah yang ada di Parangkusumo yaitu ; tentang penggusuran di Parangkusumo, status tanah Sultan Ground dan Perda Nomor 5 Tahun 2007 Tentang Pelarangan Prostitusi Kab. Bantul. Hasil tulisan mahasiswa peserta Komunitas Visit akan dijadikan bahan propaganda PEMBEBASAN  se - Nasional dan mahasiswa di kampus – kampus Yogyakarta. Tidak hanya itu, PEMBEBASAN bersama ARMP akan melakukan diskusi keliling kampus – kampus mengenai persoalan warga di Parangkusumo pada bulan november nanti.

Sekian...

Ditulis oleh kak Arie Lamondjong Pembebasan

1 komentar: